Buka buku teori keuangan klasik, dan Anda akan menemukan gambaran manusia sebagai makhluk rasional. Seolah-olah kita semua adalah kalkulator berjalan, selalu bisa menimbang risiko dan memilih opsi terbaik dengan kepala dingin. Tapi coba lihat kenyataan di sekeliling kita. Kenapa, ya, begitu banyak orang justru terjebak membeli aset karena tren, kalap jual saat harga anjlok, atau malah terbuai euforia saat pasar sedang panas-panasnya?
Jawabannya sederhana, tapi sering kita abaikan: kita ini bukan robot. Di balik setiap keputusan finansial, ada emosi, ada kebiasaan, dan ada pengaruh sosial yang bermain. Nah, di sinilah behavioral finance atau keuangan perilaku punya cerita. Ilmu ini mencoba memahami sisi manusiawi dan kadang ceroboh dari urusan uang.
Lebih Dari Sekedar Angka dan Grafik
Intinya, behavioral finance bilang kalau keputusan kita soal uang itu jarang yang murni logis. Psikologi kita-lah yang sering memegang kendali. Coba ingat saat indeks saham merah merona. Bukan analisis fundamental yang bergejolak, tapi rasa panik. Itu yang bikin orang buru-buru melepas asetnya, takut rugi semakin dalam.
Sebaliknya, ketika pasar sedang hijau dan riuh rendah, banyak yang ikut-ikutan masuk tanpa pertimbangan matang. Mereka takut ketinggalan kereta. Dua contoh tadi jelas menunjukkan, sering kali yang berbicara bukan nalar, tapi perasaan.
Dua Emosi Besar: Takut dan Serakah
Dua emosi ini seperti setir hantu yang mengendalikan banyak keputusan finansial kita. Rasa takut berlebihan bisa membuat kita membeku, menghindari peluang yang sebenarnya baik. Di sisi lain, keserakahan bisa mendorong kita mengambil risiko gegabah, seolah-olah kita kebal dari kerugian.
Parahnya, keputusan yang lahir dari kondisi emosional ini kerap berujung pada pola klasik yang salah: jual saat rendah, beli saat tinggi. Ironis, bukan? Prinsip investasi yang sehat justru terbalik. Ini membuktikan satu hal: memahami grafik itu perlu, tapi memahami diri sendiri itu jauh lebih krusial.
Jebakan Pikiran yang Tak Terlihat
Di balik semua itu, ada yang namanya bias psikologis. Ini semacam pola pikir otomatis yang menyesatkan, bekerja diam-diam di kepala kita. Misalnya overconfidence bias. Banyak trader pemula yang terlalu percaya diri, yakin bisa mengalahkan pasar. Padahal, faktanya, sangat sedikit yang berhasil melakukannya secara konsisten.
Lalu ada loss aversion. Secara alamiah, rasa sakit karena rugi sepuluh ribu terasa lebih menyiksa dibanding kebahagiaan dapat untung sepuluh ribu. Akibatnya? Kita sering bertahan terlalu lama pada investasi yang bangkrut, berharap bisa balik modal, meski logika berkata lain.
Artikel Terkait
DAAZ Gandeng Raksasa Global Garap Baterai Kendaraan Listrik
Harga Emas Antam Anjlok Rp260 Ribu per Gram dalam Sehari
Direktur BCA Borong Saham Rp2,1 Miliar di Tengah Kepanikan Pasar
Pefindo Beri Sinyal Hijau untuk DEWA, Tapi Ada Catatan di Baliknya