118 Siswa Kudus Terkapar, Program Makan Bergizi Berujung Bencana

- Jumat, 30 Januari 2026 | 06:00 WIB
118 Siswa Kudus Terkapar, Program Makan Bergizi Berujung Bencana

Tragedi "Soto Maut" SMA 2 Kudus: Korban Tembus 118 Siswa, Vendor MBG Minta Maaf di Tengah Raungan Sirine

Kamis itu benar-benar kelabu. Di SMA Negeri 2 Kudus, yang biasanya riuh dengan suara pelajaran, kini bergema raungan sirine puluhan ambulans. Bukan simulasi. Ini nyata. Operasi penyelamatan massal yang mencekam, dipicu oleh program "Makan Bergizi Gratis" (MBG) yang berubah jadi malapetaka.

Angkanya sungguh mengerikan. Dari laporan awal puluhan, korban yang dilarikan ke rumah sakit melonjak drastis. Hingga Kamis sore, 29 Januari 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mengonfirmasi: 118 siswa harus dirawat di tujuh rumah sakit berbeda. RSUD dr. Loekmono Hadi, RS Mardi Rahayu, RS Sarkies Aisyiyah semua penuh.

Tapi itu baru yang parah. Di sekolah, perkiraannya jauh lebih menakutkan. Sekitar 600 siswa dilaporkan mengalami gejala, mulai dari pusing dan mual biasa sampai diare hebat yang melumpuhkan. Bahkan beberapa guru yang ikut mencicipi makanan itu juga ikut terjangkit.

Lalu, apa pemicunya? Semua mata tertuju ke menu MBG hari Rabu sebelumnya. Paket makan siang yang seharusnya menyehatkan nasi, soto ayam suwir, tempe, taoge diduga kuat jadi biang kerok.

"Ayamnya asem, Mas. Baunya aneh, kayak sudah basi,"

kata seorang siswa yang terbaring lemas dengan infus di tangannya. Suaranya lirih, penuh kelelahan.

Di tengah kekacauan itu, vendor penyedia layanan, SPPG Purwosari, akhirnya angkat bicara. Kepalanya, Nasihul Umam, menyampaikan permintaan maaf terbuka. Dia menyatakan kesiapan untuk bertanggung jawab penuh, termasuk menanggung seluruh biaya pengobatan korban. Vendor yang melayani 13 sekolah di Kudus ini kini jadi sorotan utama.

Sementara itu, di lapangan sekolah, drama lain terjadi. Sebuah ambulans yang hendak meluncur justru terperosok lumpur di lapangan yang becek. Situasi sempat chaotic.

Tapi di situlah momen mengharapkan muncul. Melihat kendaraan penyelamat terjebak, puluhan siswa seragam putih-abu-abu tanpa pikir panjang menerjang kubangan. Mereka mendorong bersama, bahu-membahu, sampai roda ambulans itu kembali berputar. Seragam kotor, tapi solidaritas mereka bersih dan nyata.

Menanggapi tragedi ini, Bupati Kudus Sam'ani Intakoris langsung turun ke lokasi. Dia menegaskan pemerintah akan menanggung semua biaya perawatan melalui BPJS Kesehatan. Sampel makanan dan feses korban sudah diamankan untuk diperiksa lebih lanjut di lab. Kudus benar-benar dalam siaga darurat.

Hari ini, SMA 2 Kudus bukan lagi tempat belajar biasa. Ia menjadi saksi bisu sebuah kegagalan sistem yang nyaris merenggut masa depan ratusan anak muda. Program nasional yang diagung-agungkan membawa gizi, justru mendatangkan armada ambulans dari seluruh penjuru kota.

Sebuah pelajaran pahit yang tak akan mudah dilupakan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar