Jokowi Pasang Kuda-kuda, Prabowo-Gibran Dua Periode Jadi Target Ketiga

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 11:00 WIB
Jokowi Pasang Kuda-kuda, Prabowo-Gibran Dua Periode Jadi Target Ketiga

"Kan sudah saya sampaikan, Prabowo-Gibran dua periode."

Kalimat itu meluncur dari Presiden Jokowi, menanggapi pertanyaan wartawan. Intinya sederhana: ia membayangkan pasangan itu tetap solid hingga dua periode. Pertanyaan itu sendiri muncul dari gagasan Ahmad Ali, Ketua Harian PSI, yang membayangkan skenario Pilpres 2029 di mana Gibran bisa saja maju sebagai capres jika saja ia dilepas Prabowo sebagai cawapres.

Nah, sebelum lanjut, saya perlu klarifikasi. Ini bukan soal buru-buru membahas politik elektoral sementara banyak persoalan mendesak lain. Bukan begitu. Tapi, tombol-tombolnya sudah tertekan, arahnya sudah kelihatan. Bahkan, tak lama setelah pelantikan, sinyal-sinyal itu sudah terkirim.

Coba ingat lagi suasana waktu itu. Prabowo sibuk di Kertanegara bertemu calon menteri. Sementara itu, Gibran sudah blusukan ke sebuah sekolah di Jakarta, bagi-bagi susu dan buku. Lalu program "Lapor Mas Wapres" diluncurkan, persis saat Presiden sedang tidak berada di dalam negeri. Hingga akhirnya muncul peringatan halus dari Jokowi: "Ojo Kemajon".

Menurut sejumlah pengamat, pesannya jelas. Sejak awal, posisi Prabowo tak bisa dianggap enteng. "Ojo Kemajon" itu keluar karena Jokowi paham, Prabowo punya kapasitas dan tak mudah disalip. Di lapangan, Prabowo terlihat menghindari konfrontasi, tapi terus melangkah. Ia tak menghalangi, namun gerak Gibran sempat terasa mandek seolah justru di-rem dari dalam.

Sebelum pengumuman untuk relawan itu, Jokowi sebenarnya sudah lebih dulu menyatakan Prabowo-Gibran satu paket sampai 2029. Pernyataannya itu muncul sebagai respons atas usulan sejumlah purnawirawan TNI yang mendesak Gibran dimakzulkan. Situasi politik pun berubah cepat.

Artinya, wacana "dua periode" ini bisa dibilang adalah rencana ketiga Jokowi pasca-pelantikan. Rencana pertama: memposisikan Gibran layaknya presiden. Kedua: mengukuhkan pasangan itu hingga 2029. Lalu yang ketiga ini. Apakah akan ada rencana keempat? Bisa saja, jika yang ketiga ini juga mentok seperti sebelumnya.

Saya sepakat dengan analisis Arie Putra dari Channel Total Politik, yang menyebut Jokowi sebagai "teknokrat elektoral". Seorang teknokrat elektoral itu tak banyak berfilsafat. Tujuannya tunggal: raih suara terbanyak dan menang. Cara apapun akan ditempuh, tahan banting, dan fokusnya tak pernah goyah.

Jokowi sendiri tahu, jalan menuju "dua periode" itu tak mudah. Ia mengakui, skema seperti ini belum pernah terjadi. Tapi sebagai teknokrat elektoral, ia tak akan gegabah melompat ke rencana keempat misalnya skenario Gibran melawan Prabowo seperti dibayangkan Ahmad Ali. Prinsipnya: sabar, langkah demi langkah.

Sekarang, yang sedang diupayakan Jokowi adalah bagaimana membuat Prabowo tak punya pilihan lain selain menjalankan rencana ketiganya. Syaratnya: elektabilitas Gibran harus melambung tinggi, dan PSI harus solid serta besar. Kalau tidak, ya gagal lagi. Sederhana saja.

Namun begitu, saya punya pandangan lain tentang Prabowo. Ia sudah berhasil melewati belenggu pertama dan kedua dari Jokowi. Maka, sangat mungkin belenggu ketiga ini juga akan ia lewati. Banyak yang mengira Jokowi tak terkalahkan, tapi lupa bahwa Prabowo sudah masuk ke dalam sistem sejak 2019. Bisa jadi, dialah yang sekarang lebih canggih. Ingat saja, ia berani teriak "Hidup Jokowi" di depan Jokowi sendiri justru saat ia berhasil membebaskan diri dari belenggu itu.

Oleh: Erizal

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler