Sabtu (31/1) lalu, Istora Senayan Jakarta ramai oleh lautan manusia. Mereka berkumpul untuk merayakan satu abad Nahdlatul Ulama. Di tengah kerumunan itu, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, naik ke podium untuk menyampaikan sambutannya.
Suasana pagi itu sempat diguyur hujan deras. Namun begitu, Gus Yahya justru membuka pidatonya dengan menyinggung "dinamika" lain yang baru saja melanda internal PBNU. Sebuah referensi halus tentang gejolak yang terjadi belakangan ini.
“Alhamdulillah. Bapak Ibu yang saya hormati, syukur kepada Allah SWT,” ujarnya membuka.
“Setelah didahului dengan hujan lebat pagi tadi, dan juga didahului dengan dinamika yang tidak kalah lebatnya, hari ini kita rayakan, kita peringati Harlah 100 tahun Masehi Nahdlatul Ulama sebagai Nahdlatul Ulama yang satu.”
Rupanya, bisa berkumpul dalam keadaan utuh di usia seabad ini adalah sebuah pencapaian tersendiri.
Perayaan kali ini mengusung tema besar: “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”. Bagi Gus Yahya, pilihan tema itu bukan tanpa alasan. Ia melihat benang merah yang kuat antara visi NU dengan cita-cita pendirian Republik ini.
Artikel Terkait
Anggota Polisi Syariah di Aceh Merasakan Cambuk Pertama Kalinya
Jokowi Siap Bekerja Mati-Matian untuk PSI, Targetkan Struktur Lengkap Akhir 2026
Gus Umar Sindir Kaesang: Macam Betul Aja Kau Ngomong, Dulu Bilang Tak Mau Politik
Kebuntuan di Washington Picu Shutdown, Layanan Publik Terancam Lumpuh