Sabtu (31/1) lalu, Istora Senayan Jakarta ramai oleh lautan manusia. Mereka berkumpul untuk merayakan satu abad Nahdlatul Ulama. Di tengah kerumunan itu, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, naik ke podium untuk menyampaikan sambutannya.
Suasana pagi itu sempat diguyur hujan deras. Namun begitu, Gus Yahya justru membuka pidatonya dengan menyinggung "dinamika" lain yang baru saja melanda internal PBNU. Sebuah referensi halus tentang gejolak yang terjadi belakangan ini.
“Alhamdulillah. Bapak Ibu yang saya hormati, syukur kepada Allah SWT,” ujarnya membuka.
“Setelah didahului dengan hujan lebat pagi tadi, dan juga didahului dengan dinamika yang tidak kalah lebatnya, hari ini kita rayakan, kita peringati Harlah 100 tahun Masehi Nahdlatul Ulama sebagai Nahdlatul Ulama yang satu.”
Rupanya, bisa berkumpul dalam keadaan utuh di usia seabad ini adalah sebuah pencapaian tersendiri.
Perayaan kali ini mengusung tema besar: “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”. Bagi Gus Yahya, pilihan tema itu bukan tanpa alasan. Ia melihat benang merah yang kuat antara visi NU dengan cita-cita pendirian Republik ini.
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” ucap Gus Yahya, mengutip pembukaan UUD 1945.
“Dan bahwa kita semua, sebagai bangsa, sebagai negara, harus ikut serta menjalankan ketertiban dunia yang berdasarkan atas kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”
Kutipan itu, menurutnya, bukan sekadar kata-kata indah. Ia meyakini semangat itu adalah jiwa dari perjuangan NU sejak awal.
“Semua itu adalah rumusan yang merupakan wujud dari visi dan idealisme yang didirikan oleh Nahdlatul Ulama,” tegasnya.
“Yang ditetapkan ketika didirikan Nahdlatul Ulama, dan kemudian dimanifestasikan di dalam wujud Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
Pidatonya singkat, tapi sarat makna. Di usia seratus tahun, NU tampaknya ingin menegaskan kembali posisinya bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari narasi besar Indonesia.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu