“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” ucap Gus Yahya, mengutip pembukaan UUD 1945.
“Dan bahwa kita semua, sebagai bangsa, sebagai negara, harus ikut serta menjalankan ketertiban dunia yang berdasarkan atas kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”
Kutipan itu, menurutnya, bukan sekadar kata-kata indah. Ia meyakini semangat itu adalah jiwa dari perjuangan NU sejak awal.
“Semua itu adalah rumusan yang merupakan wujud dari visi dan idealisme yang didirikan oleh Nahdlatul Ulama,” tegasnya.
“Yang ditetapkan ketika didirikan Nahdlatul Ulama, dan kemudian dimanifestasikan di dalam wujud Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
Pidatonya singkat, tapi sarat makna. Di usia seratus tahun, NU tampaknya ingin menegaskan kembali posisinya bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari narasi besar Indonesia.
Artikel Terkait
Bumi Memanas Lebih Cepat, KLHK Buru-buru Tinjau Ulang Tata Ruang
Kematian di Tangan ICE: Krisis Kepercayaan dan Gelombang Protes yang Mengguncang Amerika
John Sitorus Sindir Siti Nurbaya Usai Rumahnya Digeledah: Gabung Saja ke PSI
Brian Yuliarto Buka Kartu: Kampus dan Industri Harus Jalin Kolaborasi Nyata untuk Pacu Ekonomi