“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” ucap Gus Yahya, mengutip pembukaan UUD 1945.
“Dan bahwa kita semua, sebagai bangsa, sebagai negara, harus ikut serta menjalankan ketertiban dunia yang berdasarkan atas kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”
Kutipan itu, menurutnya, bukan sekadar kata-kata indah. Ia meyakini semangat itu adalah jiwa dari perjuangan NU sejak awal.
“Semua itu adalah rumusan yang merupakan wujud dari visi dan idealisme yang didirikan oleh Nahdlatul Ulama,” tegasnya.
“Yang ditetapkan ketika didirikan Nahdlatul Ulama, dan kemudian dimanifestasikan di dalam wujud Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
Pidatonya singkat, tapi sarat makna. Di usia seratus tahun, NU tampaknya ingin menegaskan kembali posisinya bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari narasi besar Indonesia.
Artikel Terkait
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral
Panen Raya Majalengka Capai 11,5 Ton per Hektare, Stok Beras Nasional Dipastikan Surplus
Dua Turis Asing Pembuat Konten Porno Viral Berjaket Ojol Digagalkan Kabur di Bandara Bali