Kabupaten Majalengka baru saja merayakan momen penting: panen raya. Dan hasilnya? Luar biasa. Di beberapa titik, produktivitas padi bahkan menembus angka 11,5 ton per hektare. Sebuah capaian yang patut disyukuri.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ambil contoh di Desa Leuweunggede, Kecamatan Jatiwangi. Lahan seluas 36 hektare milik Agus Mulyana, yang ditanami varietas Inpari 32, menghasilkan 7,2 kilogram dari ubinan. Kalau dikonversi, itu setara dengan 11,5 ton per hektare Gabah Kering Panen. Sementara di Desa Pakubeureum, Kertajati, lahan H. Sawir Wirahandi dengan varietas Jangkar menghasilkan 10,78 ton per hektare. Sungguh menggembirakan.
Menurut sejumlah saksi di lapangan, capaian ini tak lepas dari kerja keras petani dan dukungan yang mengalir. Perbaikan tata kelola, penyediaan sarana produksi, dan pendampingan intensif di sentra-sentra produksi rupanya membuahkan hasil nyata. Petani pun bisa bernapas lega, karena harga gabah di tingkat mereka saat ini cukup baik, berkisar antara Rp7.500 sampai Rp7.800 per kilogram untuk Gabah Kering Giling.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pun angkat bicara. Ia menegaskan, prestasi seperti di Majalengka ini adalah penguat utama kondisi pangan kita.
“Kementerian Pertanian memastikan kondisi pangan nasional, khususnya beras, dalam posisi aman. Produksi saat ini berada di atas kebutuhan konsumsi nasional sehingga stok tetap terjaga,” ujar Mentan Amran (17/03/2026).
Data dari Badan Pusat Statistik seolah mengamini optimisme itu. Diperkirakan, luas panen periode Februari hingga April 2026 bakal mencapai 3,92 juta hektare. Potensi produksi beras pada kuartal pertama tahun depan pun diproyeksikan naik signifikan, sekitar 10,16 juta ton. Itu artinya ada kenaikan 15,79 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan kebutuhan nasional sekitar 2,59 juta ton per bulan, angka produksi yang berkisar 2,6 hingga 5,7 juta ton per bulan jelas memberikan ruang aman yang lebar. Stok nasional dipastikan surplus.
Namun begitu, pekerjaan belum usai. Pemerintah kini fokus mengoptimalkan momentum panen raya ini. Caranya? Dengan mempercepat penyerapan hasil panen, memperkuat distribusi, dan tentu saja menjaga stabilisasi harga di tingkat petani. Tujuannya jelas: panen raya ini bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tapi juga untuk membangun cadangan pangan yang berkelanjutan ke depannya. Sebuah langkah strategis yang, jika berjalan mulus, akan mengamalkan piring nasi kita semua.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu