Rindu pada sang ibu memang tak pernah pandang waktu. Atau kondisi dompet. Itulah yang dirasakan Asep Kumala Seta, pedagang cilok berusia 31 tahun yang nekat mudik dari Bandung ke Ciamis dengan cara yang tak biasa: jalan kaki dan numpang truk. Semuanya karena keterbatasan biaya.
Sehari-hari, pria ini berkeliling kampung di kawasan Cibaduyut menjajakan cilok. Tapi Lebaran tahun ini berbeda. Uang tak cukup untuk beli tiket. Namun begitu, hasrat untuk pulang kampung jauh lebih kuat.
"Saya tadi pergi jalan kaki dari Cibaduyut sekitar jam 12 siang," cerita Asep.
Ia kemudian naik bus Damri dari Leuwi Panjang sampai Cibiru. "Setelah itu uang saya pas-pasan, saya langsung naik truk sampai Rancaekek, dan dilanjut lagi truk lain sampai Nagreg," lanjutnya. Ia ditemui di depan Pos Pam Cikaledong, Nagreg, pada Selasa malam.
Tapi perjalanan panjang jarang berjalan mulus. Pernah suatu kali, ia dapat tumpangan truk menuju Garut. Eh, malah belok ke Kadungora. Ya sudah, terpaksa turun dan melanjutkan dengan kaki lagi sampai Cikaledong.
Di punggungnya, tas ransel penuh muatan: pakaian, sepatu, perlengkapan camping, bahkan kompor dari kontrakannya. Bekal untuk Lebaran pun sederhana saja: cilok dagangannya dan sebotol sirop.
Sudah dua tahun Asep menggeluti usaha cilok ini. Pola hidupnya seperti roda berputar: kerja beberapa bulan di Bandung, lalu pulang ke Ciamis dengan berjalan kaki. Namun belakangan, penghasilannya merosot.
"Tapi ini sudah satu bulan lebih penjualan merosot," ungkapnya dengan jujur. "Sehari teh cuma dapet Rp100 ribu, setorannya Rp70 ribu, saya dapet Rp30 ribu."
Di tengah segala keterbatasan, satu hal yang jelas: tekadnya untuk bertemu ibu di kampung halaman tak bisa dibeli dengan uang.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi