Konten podcast Denny Sumargo yang menampilkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tiba-tiba raib dari YouTube. Banyak yang bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Rabu lalu, Denny yang akrab disapa Densu akhirnya angkat bicara. Ia dengan tegas membantah kalau dirinya atau timnya yang sengaja menghapus video tersebut. Soal hilangnya konten itu, ternyata platform YouTube-lah yang mengambil tindakan.
“Ada beberapa hal yang dianggap melanggar ketentuan komunitas,” ujar Densu, menjelaskan alasan penghapusan itu. Dugaan sementara, ada bahasa atau konten di dalamnya yang harus disensor.
Tak tinggal diam, Denny dan tim langsung bergerak. Mereka melakukan penyuntingan ulang agar video itu bisa kembali ditayangkan. Hasilnya? Podcast itu akhirnya muncul lagi di kanal YouTube-nya dengan judul yang cukup provokatif: “Video Ini Hilang dari Beranda. Ahok Bongkar Semuanya di Sini.”
Di dalam percakapan itu, obrolan mereka cukup luas. Mereka membahas pendidikan di Indonesia, menyentuh materi stand up comedy Pandji Pragiwaksono, hingga mengupas soal Undang-Undang Perampasan Aset. Dengan gaya khasnya yang blak-blakan, Ahok tak sungkan menyampaikan pandangan pribadinya atas berbagai isu panas yang dilontarkan Densu.
Namun begitu, ada satu bagian yang paling menyita perhatian. Ahok membongkar praktik kecurangan yang pernah ia saksikan saat pemilihan kepala daerah dilakukan lewat DPRD. Ini bahkan disebutnya sebagai alasan utama dirinya memutuskan keluar dari dunia partai politik.
“Dulu aku keluar dari partai politik gara-gara itu. Sudah tahulah ya,”
kata Ahok dalam podcast tersebut.
Keputusan keluar dari Partai Gerindra itu terjadi lebih dari satu dekade lalu, tepatnya September 2014. Saat itu, Ahok merasa tidak lagi sejalan dengan partai yang mendukung revisi UU yang mengembalikan Pilkada ke tangan DPRD. Ia punya alasan kuat.
Menurut sejumlah saksi dan pengalamannya sendiri, Ahok mengaku tahu betul bagaimana praktiknya berjalan. Ia menceritakan, dulu sering membantu ayahnya, almarhum Indra Tjahaja Purnama, seorang pengusaha di Bangka Belitung. Rumah sang ayah kerap menjadi tempat berkumpulnya para ketua partai besar.
“Makanya, saya tahu persis,” ujar mantan Gubernur DKI itu.
“Misalnya dari tiga partai, pemilihan bupati… partai berkuasa bisa kumpulin ketua partai yang kesannya berantem di lapangan, terus diatur: ‘pilih siapa, pilih siapa’.”
Ia lalu menyebut contoh nyata yang mungkin masih diingat banyak orang: Pemilihan Gubernur Riau kala itu. “Pemilihan tiba-tiba kok suara dia… suara sebelum Pilkada, sudah dipanggil, ‘eh lu pilih ini ya,’ gitu. Diatur kan.”
Dari obrolan itulah terungkap, ketidaksukaannya pada mekanisme pilkada lewat DPRD berakar dari pengalaman langsung melihat ‘mesin politik’ bekerja. Bukan sekadar wacana.
Kini, setelah melalui proses sunting ulang, percakapan lengkapnya bisa kembali disaksikan publik. Meski sempat hilang, pandangan tajam Ahok soal dinamika politik lokal itu akhirnya tidak benar-benar hilang dari peredaran.
Artikel Terkait
LPDP Perketat Pengawasan, 600 Penerima Beasiswa Diselidiki atas Dugaan Pelanggaran
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi