Seorang pedagang siomay memilih cara yang luar biasa untuk pulang kampung. Edi Rusidi, pria 50 tahun itu, nekat mudik dari Cilacap ke Pemalang dengan berjalan kaki. Yang membuatnya makin mencolok, ia mendorong gerobak dagangannya sepanjang perjalanan.
Menurut sejumlah saksi, perjalanan panjangnya sudah dimulai sejak Senin pagi, tepatnya pukul enam dari Sampang, Cilacap. Edi berharap bisa menginjakkan kaki di Desa Banyumudal, Pemalang, pada Jumat malam nanti. Bayangkan, empat hari empat malam di jalan.
Lantas, apa yang mendorongnya melakukan perjalanan ekstrem ini? Ternyata, ini bukan sekadar keisengan. Edi sedang menunaikan nazar.
"Dulu saya pernah kecelakaan parah. Kaki saya sampai dislokasi, nggak bisa jalan sama sekali," ujarnya.
"Waktu itu saya bernazar. Kalau bisa sembuh, saya ingin jalan kaki."
Nah, nazar itulah yang kini ditepatinya. Dengan rute sepanjang 130 kilometer, tentu butuh persiapan fisik dan mental yang kuat. Edi mengaku sudah siap menghadapi segala rintangan. "Kalau naik motor sih cuma tiga jam," katanya sambil tertawa. "Tapi ya ini nazar. Saya perkirakan empat hari empat malam jalan."
Lalu, kenapa harus membawa gerobak? Rupanya, itu bagian dari rencananya. Begitu tiba di kampung halaman, ia langsung akan melanjutkan usaha berjualan siomay. Jadi, gerobak itu bukan beban, melainkan modal untuk menghidupi keluarga di rumah.
Perjalanan Edi masih berlanjut. Di tengah ramainya arus mudik dengan kendaraan bermotor, langkahnya yang pelan namun penuh tekad justru menyita perhatian. Sebuah perjalanan yang bukan cuma tentang sampai di tujuan, tapi juga tentang memenuhi janji pada diri sendiri.
Artikel Terkait
Cak Imin Dukung Haul Akbar Ulama dan Habaib Betawi Jadi Agenda Tahunan Jakarta
Norwegia Larang AI Generatif untuk Siswa SD, Batasi Ketat Penggunaannya di SMP
Presiden Prabowo Dorong Perhatian Khusus pada Olahraga Disabilitas, Sertifikasi Pelatihan Jadi Prioritas
Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 18 Orang, Puluhan Lainnya Terluka