Selat Hormuz lagi-lagi jadi pusat perhatian. Bukan cuma sebagai jalur kapal, tapi lebih sebagai alat diplomasi yang sangat strategis. Di sini, di perairan sempit ini, urusan geopolitik, energi, dan keamanan dunia bertemu. Simpulnya rapuh, tapi nasib ekonomi global bisa bergantung padanya.
Angkanya saja sudah bikin merinding: sekitar seperlima minyak dunia lebih dari 17 juta barel per hari harus melewati selat ini. Gangguan kecil saja, pasar energi langsung bergetar. Harga melonjak, efek domino pun berjalan, mengganggu sistem ekonomi yang sudah rentan.
Iran tahu betul posisinya. Kekuatan mereka di sini bukan cuma soal kapal perang atau rudal. Kuncinya ada pada kontrol mereka atas titik tersempit dan terpenting di peta energi global ini. Bagi Teheran, Hormuz adalah kartu truf. Aset strategis yang nilainya tak terhingga.
Di sisi lain, tekanan sanksi dari Barat makin keras. Nah, dalam situasi seperti inilah ancaman untuk menutup selat itu muncul. Itu senjata diplomasi. Tujuannya seringkali bukan untuk benar-benar digunakan, tapi untuk membentuk persepsi. Dan dalam dunia energi, persepsi risiko sering lebih berpengaruh daripada kenyataan di lapangan.
Bayangkan jika penutupan benar-benar terjadi. Krisis energi global hampir pasti tak terhindarkan. Harga minyak meledak, rantai pasok kacau, inflasi meroket. Tapi justru karena dampaknya terlalu dahsyat, opsi ini jadi senjata pamungkas yang mahal harganya. Terlalu berisiko untuk dijalankan.
Karena itu, Iran memilih jalan tengah. Selat dibiarkan terbuka, tapi sekali-kali mereka ciptakan gangguan terbatas. Penahanan kapal tanker, manuver militer mendadak, atau latihan angkatan laut di sekitar selat semua itu adalah sinyal. Sebuah pesan strategis, bukan deklarasi perang.
Sepertinya Iran paham betul ajaran Sun Tzu dalam "The Art of War". Seni perang tertinggi adalah menaklukkan musuh tanpa pertempuran. Ancaman yang kredibel seringkali jauh lebih efektif daripada serangan yang nyata.
Ini ibarat permainan catur tingkat tinggi. Iran tak buru-buru mengayunkan pedang. Cukup dengan memperlihatkan pedang itu, mengasahnya di depan mata lawan, dan membiarkan lawan sibuk menghitung segala kemungkinan. Dalam logika ini, ketegangan yang terkelola justru jadi modal, bukan kegagalan.
Secara geografi, selat ini memang unik. Panjangnya cuma sekitar 39 kilometer, lebarnya bervariasi dari 33 sampai 95 kilometer. Celah sempit itu yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Karakteristiknya yang rentan inilah yang membuatnya mudah sekali dipolitisasi.
Artikel Terkait
TPU Kebon Nanas Disulap, 2.500 Petak Makam Baru Gantikan Permukiman Liar
Gus Ipul Pacu Digitalisasi Bansos, Uji Coba Dimulai dari Banyuwangi
BGN Larang Bawa Pulang Makanan Gratis, Sekolah Wajib Awasi Konsumsi di Tempat
Susno Duadji Sindir Komisi Reformasi Polisi: Sejak Awal Sudah Diniatkan Gagal