Bagi negara-negara tetangga di Teluk, serangan langsung AS ke Iran adalah mimpi buruk. Konflik terbuka akan membuka pintu bagi ancaman keamanan, guncangan ekonomi, dan instabilitas politik yang sulit dikendalikan. Risikonya terlalu besar untuk kawasan yang sudah panas.
Iran sendiri sudah lama berubah. Mereka meninggalkan doktrin pertahanan konvensional. Sebagai gantinya, Teheran mengembangkan apa yang mereka sebut "Ring of Fire" atau "Vahdat al-Sahat" sebuah pendekatan pertahanan agresif yang berbasis asimetri.
Intinya sederhana: satukan berbagai front perlawanan dalam satu visi. Melalui doktrin ini, jaringan proksi regional seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi diintegrasikan ke dalam satu arsitektur konflik yang saling terhubung. Perang jadi menyebar, simultan, dan tidak terpusat.
Dengan strategi "forward defense" ini, Iran bisa memindahkan medan tempur jauh dari wilayahnya sendiri. Mereka melindungi kedaulatan domestik sambil memaksa musuh berjibaku di banyak front sekaligus. Biaya politik dan ekonominya untuk lawan jadi membengkak.
Transfer teknologi dari drone, roket presisi rendah biaya, sampai sistem komunikasi kepada para sekutu proksi menciptakan dilema keamanan serius. Serangan bisa datang dari mana saja, tanpa Iran perlu terlibat langsung. Cukup rumit untuk dihadapi.
Nah, dalam konteks Selat Hormuz, strategi ini jadi lapisan tekanan tambahan. Ancaman gangguan di laut, ditambah eskalasi oleh proksi di darat, menciptakan ketidakpastian yang mencekik. Sulit ditangani hanya dengan kekuatan militer konvensional biasa.
Bagi pasar global, ketidakpastian adalah musuh nomor satu. Harga minyak tak hanya bereaksi pada peristiwa, tapi juga pada ekspektasi dan rasa takut. Di sinilah Iran bermain dengan sangat cerdik: mereka mengelola ekspektasi itu sendiri.
Ada ironi yang menarik. Dengan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, posisi tawar Iran justru makin kuat. Dunia tahu mereka mampu menutupnya. Fakta bahwa mereka tidak melakukannya, membuat Teheran tampil sebagai aktor rasional yang punya kendali penuh atas dinamika ketegangan.
Pada akhirnya, Selat Hormuz lebih dari sekadar jalur minyak. Ia adalah panggung diplomasi abad ke-21. Di panggung inilah Iran menunjukkan satu hal: dalam geopolitik modern, kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, melainkan kemampuan untuk membuat seluruh dunia terus menahan napas, tanpa perlu melepaskan satu tembakan pun.
Artikel Terkait
Tiga Dekade Jualan Es Gabus di Kemayoran, Kini Sudrajat Pulang Karena Trauma
Ketua GP Ansor Bondowoso Ditahan Terkait Dugaan Korupsi Dana Seragam Rp1,2 Miliar
Islamic Centre Bekasi Terbengkalai 14 Tahun, Beralih Jadi Tempat Angker
Gubernur Jabar Soroti Penembakan Macan Tutul di Sanggabuana, Pelaku Diamankan