Baginya, intinya bukan sekadar secarik kertas ijazah.
“Yang ingin diketahui publik adalah kejujuran Jokowi, bukan ijazahnya. Jadi kalau Jokowi berulang kali tidak jujur, maka orang menganggap bahwa bahkan terhadap ijazahnya dia tidak jujur,” jelasnya tegas.
Rocky menegaskan, ini soal hubungan warga negara dengan kepala negara. Bukan urusan pidana atau perdata yang ruwet. “Pertanyaan warga negara terhadap kepala negara adalah pertanyaan pemilik kedaulatan terhadap pemegang representasi kedaulatan,” katanya.
Ia mengibaratkan Jokowi sebagai “pegawai” rakyat. Wajar saja jika si majikan dalam hal ini rakyat meminta bukti administratif. “Rakyat bertanya, ‘Mana ijazahmu?’ Jangan dilaporkan balik. Loh, Anda memang mesti terangkan pada warga negara,” ujarnya.
Tak cuma Jokowi, sorotan juga mengarah ke keluarganya. Rocky menyebut sederet isu: mulai dari dugaan kepalsuan ijazah putranya, Gibran, indikasi korupsi proyek jalan di Padang Lawas yang melibatkan menantunya, Bobby Nasution, hingga isu-isu seputan Wakil Presiden.
“Keluarga ada di dalam sorotan publik. Saya kira itu alasannya mengapa Pak Jokowi datang bertemu dengan Pak Prabowo,” katanya. Menurut pengamatannya, Jokowi terlihat hanya fokus pada diri dan keluarganya sendiri.
Publik, lanjutnya, mendambakan kejelasan. Apalagi soal kedudukan Jokowi yang dianggap masih ingin melanjutkan pengaruh kekuasaan melalui para proksinya. “Ini keadaan yang sangat baik untuk pelajaran politik,” pungkas Rocky, “bahwa isu-isu tentang dinasti politik Jokowi itu masih di situ.”
Artikel Terkait
Badai Salju Tewaskan Sepuluh Jiwa, Ratusan Ribu Rumah Gelap Gulita di AS
Gempa 4,4 Magnitudo Guncang Bantul, Warga Berhamburan Keluar Rumah
Ketua TPUA Berbalik Arah, Lapor Aktivis yang Dulu Mereka Bela
Di Tengah Isu Reshuffle, Budisatrio Bungkam Soal Kabar Penggantian Sugiono