MAKASSAR – Stadion Gelora BJ Habibie di Parepare bakal jadi tempat ujian berat buat PSM Makassar, Senin (2/2/2026) nanti. Mereka menjamu Semen Padang, dan tekanan untuk menang terasa begitu besar. Pelatih Tomas Trucha jelas mengincar tiga poin penuh. Lebih dari itu, dia harus menghentikan tren buruk yang bikin resah: lima kekalahan beruntun di BRI Super League.
Secara statistik, PSM lebih diunggulkan. Dari sembilan pertemuan sebelumnya, Juku Eja menang empat kali, sementara Semen Padang cuma tiga. Dua laga lainnya berakhir imbang. Belum lagi soal kekuatan skuad. Nilai pasar pemain PSM disebut-sebut mencapai Rp90,38 miliar, jauh di atas Semen Padang yang cuma Rp68,40 miliar. Tapi, ya itu tadi, statistik seringkali menipu.
Di konferensi pers sehari sebelum laga, Tomas Trucha tak menyembunyikan beban itu. Suaranya terdengar serius.
"Kami main di kandang sendiri, di depan suporter. Poin itu wajib kami dapatkan. Kami tahu fans belakangan ini kecewa. Kami pun sama, tidak senang dengan hasil-hasil yang ada," ujarnya, Minggu (1/2/2026).
Dia juga mengeluhkan kondisi tim yang lagi kena sial. Akumulasi kartu dan cedera menghantam, sehingga banyak pemain andalan yang absen. Hal ini, menurutnya, sangat memengaruhi performa.
Namun begitu, Trucha berharap suporter tetap di belakang tim. "Di masa sulit begini, kita harus bersatu. Berjuang bersama untuk melewatinya," harap pelatih asal Republik Ceko itu.
Di sisi lain, kubu tamu justru datang dengan optimisme yang mengejutkan. Pelatih Semen Padang, Dejan Antonic, malah bicara soal mencuri poin bahkan menang untuk kabur dari zona merah klasemen.
"Setiap pertandingan dan setiap poin itu penting buat kami. Lihat kondisi pemain sekarang, kami siap tempur melawan PSM. Apalagi posisi kami masih di zona merah, motivasi pasti tinggi," tegas pria asal Serbia itu.
Optimisme Antonic punya dasar. Pada laga terakhir, anak asuhnya mampu menahan imbang Bali United 3-3 di kandang sang raksasa. Hasil yang cukup gemilang untuk tim papan bawah. Sementara PSM? Mereka baru saja tumbang 0-2 dari Persijap Jepara.
Goliath yang Sedang Limbung
Laga di GBH Parepare ini ibarat pertarungan harga diri. Di atas kertas, PSM adalah Goliath yang jauh lebih perkasa. Tapi realitanya, sang raksasa sedang limbung. Lima kekalahan beruntun bukanlah angka main-main. Itu menunjukkan ada yang salah, entah di kolektivitas, mental, atau taktik.
Kedalaman skuad dan kualitas individu pemain PSM memang tak diragukan. Tapi masalah klasik kartu dan cedera menjadi penghalang besar bagi skema permainan Tomas Trucha. Dukungan suporter kandang pun bisa jadi pedang bermata dua. Kalau gol cepat tak kunjung datang, gemuruh sorak dari tribun bisa berubah jadi desakan yang justru membebani.
Sebaliknya, Semen Padang datang dengan mental underdog yang ringan. Hasil imbang melawan Bali United memberi mereka suntikan kepercayaan diri yang besar. Sentuhan Dejan Antonic mulai terlihat, membuat Kabau Sirah bermain lebih lepas dan nekat.
Motivasi mereka juga jelas: keluar dari zona merah. Keinginan bertahan itu sering melahirkan performa heroik, terutama saat lawan yang dihadapi sedang tidak stabil.
Klasemen sementara menempatkan PSM di peringkat 13 dengan 19 poin. Sedangkan Semen Padang terperosok di posisi 17, persis di dasar jurang degradasi. Pertemuan pertama musim ini di Padang berakhir imbang 1-1.
Jadi, mampukah Yuran Fernandes dan kawan-kawan memulihkan harga diri dan mengakhiri tren buruk? Atau justru Semen Padang yang akan meraih poin berharga di tanah Parepare? Semua pertanyaan itu baru akan terjawab ketika whistle final berbunyi.
Artikel Terkait
Persib Bandung Balikkan Keadaan, Kalahkan Bhayangkara 4-2 dan Rebut Puncak Klasemen dari Borneo FC
Tim Uber Indonesia Kalahkan Denmark, Tantang Korea Selatan di Semifinal
Pedrosa Prediksi Duel Bezzecchi vs Marquez di MotoGP 2026, Martin Jadi Kuda Hitam
Bruno Moreira Diuji di Empat Laga Sisa: Kapten Persebaya Harus Buktikan Diri di Tengah Standar Tinggi Bernardo Tavares