Di ruang sidang Istana Negara, Jumat (13/3/2026), suasana terasa serius. Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna dengan satu isu besar di atas meja: perang yang berkecamuk di Timur Tengah antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Sudah dua pekan konflik itu berlangsung, dan dunia menahan napas.
Prabowo mengawali dengan harapan. Ia bilang, skenario terburuk yang banyak dibayangkan orang mungkin kita semua semoga tak terjadi. Tapi nada suaranya tak sepenuhnya optimis. Ada kekhawatiran yang nyata.
Indonesia, menurutnya, masih dalam kondisi relatif aman. Namun begitu, presiden mengingatkan seluruh jajarannya untuk tidak lengah. “Walaupun merasa aman, tidak panik, kita tidak boleh tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling jelek,” tegas Prabowo. Pesannya jelas: kewaspadaan adalah kunci.
Lalu, bagaimana dampak riilnya bagi perekonomian kita? Di situlah laporan dari para menteri mulai masuk. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan Ketua DEN Luhut Pandjaitan memaparkan analisis mereka. Intinya, situasi ini berpotensi menggoyang anggaran negara.
Artikel Terkait
38 PMI Dideportasi dari Malaysia Tiba di Dumai, Gelombang Ketiga di Ramadan
Presiden Prabowo Tegaskan Kekayaan Alam untuk Kebutuhan Dalam Negeri Dulu
Serangan Drone di Irak Utara Tewaskan Dua Anggota Kelompok Kurdi, Diduga Dilakukan Iran
Menko Hukum Yusril Kecam Penyerangan Biadab terhadap Aktivis KontraS