Di ruang sidang Istana Negara, Jumat (13/3/2026), suasana terasa serius. Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna dengan satu isu besar di atas meja: perang yang berkecamuk di Timur Tengah antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Sudah dua pekan konflik itu berlangsung, dan dunia menahan napas.
Prabowo mengawali dengan harapan. Ia bilang, skenario terburuk yang banyak dibayangkan orang mungkin kita semua semoga tak terjadi. Tapi nada suaranya tak sepenuhnya optimis. Ada kekhawatiran yang nyata.
“Kita berharap skenario yang terburuk tidak terjadi di Timur Tengah, tetapi ramalan-ramalan juga banyak mengatakan ini bisa jadi perang yang sangat panjang, perang yang sangat panjang,” ujarnya, seperti dikutip dari Antara.
Indonesia, menurutnya, masih dalam kondisi relatif aman. Namun begitu, presiden mengingatkan seluruh jajarannya untuk tidak lengah. “Walaupun merasa aman, tidak panik, kita tidak boleh tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling jelek,” tegas Prabowo. Pesannya jelas: kewaspadaan adalah kunci.
Lalu, bagaimana dampak riilnya bagi perekonomian kita? Di situlah laporan dari para menteri mulai masuk. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan Ketua DEN Luhut Pandjaitan memaparkan analisis mereka. Intinya, situasi ini berpotensi menggoyang anggaran negara.
Airlangga menjelaskan dengan rinci. Defisit APBN bisa saja tembus di atas 3 persen jika perang ternyata berlarut-larut. Pemerintah sudah menyiapkan beberapa skenario hitungan.
“Kalau kita masukkan terhadap APBN kita Pak, yang sekarang, ini skenario pertama, ICP-nya di 86 dolar AS per barel, kursnya di Rp17.000... defisitnya adalah 3,18 persen,” papar Airlangga di hadapan presiden.
Itu skenario awal. Di skenario moderat dengan harga minyak dunia diprediksi naik ke 97 dolar AS per barel dan kurs rupiah melemah defisitnya membengkak jadi 3,53 persen. Angkanya makin mencemaskan saat masuk ke skenario pesimis.
“Nah, kemudian kalau skenario terburuk... dengan harga 115 dolar AS per barel, kurs rupiah kita Rp17.500... defisitnya 4,06 persen,” lanjutnya.
Kesimpulannya terasa berat. Airlangga menyampaikan, mempertahankan defisit di batas 3 persen akan sangat sulit. Kecuali, tentu saja, dengan langkah-langkah penghematan yang mungkin tak populer: memotong belanja dan mengerem pertumbuhan ekonomi.
Jadi, di balik harapan agar konflik segera mereda, pemerintah tampaknya sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk. Sidang hari itu bukan sekadar formalitas, melainkan perencanaan nyata menghadapi gejolak global yang dampaknya bisa sampai ke meja makan kita semua.
Artikel Terkait
Manchester United Menang 2-1 atas Brentford, Carrick Ungkap Cedera Pinggang Jadi Alasan Absennya Matheus Cunha
Korban Selamat Dievakuasi dari Reruntuhan KRL di Bekasi, 5 Tewas dalam Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek
KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi Timur, 4 Tewas dan 38 Luka-Luka
KAI Tutup Stasiun Bekasi Timur, 5 Tewas dalam Tabrakan KA Argo Bromo dan KRL