Di mana-mana, kata "digitalisasi" seolah jadi mantra. Sekolah, kantor, sampai instansi pemerintah ramai-ramai memasang aplikasi dan memperbarui sistem. Semuanya ingin tampil modern. Tapi, pernahkah kita bertanya: bagaimana dengan orang-orang di dalamnya? Banyak yang justru merasa tersesat di tengah gegap gempita perubahan ini.
Memang, teknologi melaju cepat. Namun, manusia di belakangnya tak selalu punya kesempatan untuk mengejar. Di sinilah akar masalahnya sering kali bermula.
1. Salah Kaprah: Digitalisasi Cuma Soal Teknologi
Bagi banyak organisasi, digitalisasi dianggap selesai begitu server hidup dan aplikasi terinstal. Pokoknya, kalau perangkatnya sudah ada, berarti perubahan sudah terjadi. Padahal, ini pemikiran yang keliru. Digitalisasi bukan cuma soal mengganti kertas dengan PDF atau formulir fisik dengan Google Form.
Yang terjadi kemudian? Pola pikir dan kebiasaan kerja lama tetap bercokol. Alhasil, teknologi canggih pun akhirnya cuma dipakai dengan cara-cara yang kuno. Di permukaan terlihat modern, tapi esensinya nihil.
2. Tekanan Deadline dan Ruang Adaptasi yang Menyempit
Biasanya, teknologi baru datang dengan target waktu yang ketat. Para staf diharapkan langsung mahir, segera produktif, dan minim kesalahan. Sayangnya, kemampuan manusia beradaptasi tidak bisa dipaksa seperti mesin.
Ketika ruang untuk belajar dan salah dicabut, yang muncul adalah ketakutan. Orang akan memilih jalan aman: kembali ke metode lama yang sudah dikuasai. Bukannya maju, malah mundur.
3. Janji Efisiensi yang Justru Berujung Beban Ganda
Ini ironi yang sering terjadi. Alih-alih meringankan pekerjaan, digitalisasi malah menumpuknya. Sistem lama belum dipensiunkan, sistem baru sudah harus diisi. Pegawai pun terjebak: mengerjakan tugas secara digital sambil tetap menjaga arus kerja konvensional.
Artikel Terkait
Prabowo di Dewan Perdamaian Trump: Diplomasi atau Pengkhianatan Prinsip?
Iran Siaga Perang Total, Balas Setiap Serangan AS
Sudan Terbelah, Darurat Kemanusiaan, dan Panggilan bagi Indonesia
Trump Bentuk Dewan Perdamaian, 10 Alasan Mengapa Langkah Ini Dianggap Bermasalah