Dampaknya bisa ditebak. Teknologi yang dijanjikan sebagai solusi, akhirnya dicap sebagai sumber masalah baru.
4. Pendekatan Satu Untuk Semua
Setiap unit kerja punya karakter dan budaya sendiri. Tapi, dalam penerapan digitalisasi, pendekatan yang seragam kerap dipaksakan. Sistem yang dianggap sukses di divisi A, langsung di-clone ke divisi B tanpa pertimbangan matang.
Hasilnya? Ketidakcocokan. Jarak antara kebijakan dan realita di lapangan jadi makin lebar. Yang cocok di satu tempat, bisa jadi sama sekali tidak relevan di tempat lain.
5. Manusia: Paling Penting, Paling Sering Terlupakan
Dalam rapat-rapat perencanaan, pembicaraan seringnya berkutat pada spesifikasi teknis, anggaran, dan timeline. Lalu, di mana posisi manusianya? Seringkali cuma jadi catatan kaki. Padahal, merekalah yang akan menjalankan dan menghidupkan sistem itu.
Tanpa mempertimbangkan kesiapan mental, keterampilan, dan kebutuhan riil pengguna, digitalisasi kehilangan jiwanya. Teknologi bisa berjalan, tapi tidak ada yang merasa terbantu.
Pada Akhirnya, Ini Soal Perjalanan
Digitalisasi bukan tujuan akhir. Ia lebih mirip perjalanan panjang yang harus ditempuh bersama. Butuh waktu, pendampingan, dan yang paling utama: empati. Perubahan hanya akan berarti ketika teknologi dan manusianya bergerak seirama.
Tanpa itu, teknologi cuma akan jadi simbol kosong. Sebuah pertunjukan modernitas, tanpa substansi perubahan yang sesungguhnya.
Artikel Terkait
Prabowo di Dewan Perdamaian Trump: Diplomasi atau Pengkhianatan Prinsip?
Iran Siaga Perang Total, Balas Setiap Serangan AS
Sudan Terbelah, Darurat Kemanusiaan, dan Panggilan bagi Indonesia
Trump Bentuk Dewan Perdamaian, 10 Alasan Mengapa Langkah Ini Dianggap Bermasalah