Kondisi ini, diakui Bima, jadi tantangan serius buat para pemimpin daerah. Apalagi data prevalensi perokok nasional sudah tembus 38,12 persen dan angkanya masih terus naik. Situasinya memang mendesak.
"Kita harus fokus pada tindakan preventif. Tindakan yang mencegah sejak dini, demi menciptakan generasi tanpa rokok menuju Indonesia Emas 2045," ujarnya lagi.
Di sisi lain, Bima juga menegaskan satu hal penting. Ketegasan pemerintah daerah dalam mengendalikan tembakau jangan sampai goyah hanya karena khawatir Pendapatan Asli Daerah (PAD) bakal turun. Pengalaman di sejumlah wilayah malah menunjukkan hal sebaliknya. Kebijakan yang tegas justru membuka pintu bagi industri lain, seperti sektor kesehatan, untuk masuk dan memberi dampak positif bagi perekonomian lokal.
Sebagai penutup, Bima Arya menitipkan tiga pesan kunci untuk para kepala daerah, terutama yang baru menjabat. Pertama, perlu inovasi terus-menerus dalam kampanye pengendalian tembakau. Kedua, kolaborasi lintas pemangku kepentingan akademisi, pelaku usaha, komunitas, media harus diperkuat. Terakhir, yang tak kalah vital adalah regenerasi kepemimpinan. Upaya ini harus tetap jalan meski masa jabatan seorang kepala daerah terbatas.
APCAT Summit 2026 sendiri dihadiri oleh banyak pemimpin daerah dan stakeholder kesehatan se-Asia Pasifik. Bima Arya sendiri bukan nama baru di forum ini. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Co-Chair APCAT, berbagi peran dengan Wali Kota Balanga City, Filipina, Francis Anthony S. Garcia.
Artikel Terkait
Kobaran Api Hanguskan Kapal di Pelabuhan Muara Baru, Asal Usul Masih Misterius
Sengketa Lahan Berujung Adu Senjata Angin di Padang Lawas Utara
Dua Kelarga Berdamai, Kasus Penganiayaan Anak di Warung Kelontong Ditutup
Uang Haram Sertifikasi K3 Dijadikan Uang Saku Pejabat Kemnaker