Suasana di Pendapa Kridha Manunggal Budaya, Sleman, Minggu lalu, terasa berbeda. Bukan sekadar pertemuan biasa. Di sana, Serikat Nasional Pelestari Tosan Aji Nusantara atau Senapati Nusantara, menggelar Rapat Kerja Agung mereka. Agenda utamanya jelas: merumuskan langkah strategis untuk menjaga warisan Tosan Aji agar tetap hidup sebagai bagian penting dari kebudayaan kita.
Dalam sambutannya, Sekjen Senapati Nusantara, Hasto Kristiyanto, langsung menegaskan satu hal. Pelestarian Tosan Aji, bagi dia, jauh lebih dalam dari sekadar merawat benda pusaka yang sudah berusia ratusan tahun.
“Cerita ini relevan dengan Tosan Aji. Karena jalan ksatria itu adalah jalan penuh gemblengan lahir batin, ilmu kalakone kanthi laku,”
Begitu penegasan Hasto, mengutip filosofi Jawa yang dalam. Ia melihat pelestarian sebagai sebuah proses panjang. Sebuah perjalanan yang tak cuma menjaga bilah besi, tapi juga nilai, laku, dan pembentukan karakter manusia Nusantara itu sendiri.
Gagasan itu, menurutnya, berakar dari pemikiran Bung Karno tentang bangsa yang berkepribadian dalam kebudayaan. Prinsip itulah yang kini dipegang teguh sebagai landasan. Tujuannya, biar tradisi tak jadi museum, tapi tetap bernapas dan berkembang mengikuti zaman.
Nah, di sisi lain, Hasto juga menolak pandangan yang memisahkan pelestarian dengan pengembangan. Justru sebaliknya. Menurut dia, dua hal itu tak bisa dipisahkan.
“Di dalam pelestarian itu ada sense of development,”
Artikel Terkait
IKA Unhas Salurkan Bantuan ke Warga Terdampak Banjir di Barombong
Mantan Kekasih Diamankan Diduga Tewaskan Mahasiswi di Dumai
Ketua Komisi VIII Tak Sadar Ada Upaya Pengkondisian Pansus Haji oleh Yaqut
Kelme Luncurkan Jersey Timnas Indonesia dengan Teknologi Jacquard dan Emblem Silikon 3D