Love scam itu tak pandang bulu. Siapa pun bisa jadi korbannya, bahkan seorang dokter sekalipun. Ambil contoh Via, seorang perempuan berusia 31 tahun yang baru saja kehilangan ratusan juta rupiah. Uang tabungan dan pinjaman temannya itu raib begitu saja, dikuras habis oleh seorang pria yang baru ia kenal lima hari sebelumnya lewat aplikasi kencan.
Awalnya, hari itu tampak biasa saja. Tanggal 13 Oktober 2024, Via sedang bertugas jaga di IGD sebuah rumah sakit di Jakarta. Di sela kesibukannya, telepon dari pria yang ia anggap calon suami itu pun masuk. Siapa sangka, percakapan yang dimulai dengan basa-basi manis itu berubah jadi mimpi buruk.
Via sebenarnya bukan orang yang mudah percaya. Setengah hidupnya dihabiskan untuk mengejar karir di dunia medis hingga akhirnya meraih gelar dokter. Pacaran? Tak ada waktu untuk itu. Di usia 31, ia merasa sudah waktunya mencari pasangan hidup. Maka, ia pun mencoba peruntungan di sebuah aplikasi kencan online.
Di sanalah ia bertemu dengan Bagas. Foto profilnya lumayan, dan obrolan mereka terasa serius membahas pekerjaan, rencana hidup. Bagas mengaku bekerja di perusahaan tambang besar di Kalimantan. Via merasa cocok. Mereka pun pindah ke WhatsApp, beralih dari pesan teks ke telepon. Namun, pertemuan langsung atau video call tak pernah terjadi.
“Cuma obrolan sehari-hari doang,” kenang Via saat diwawancarai pada suatu Kamis di akhir Januari.
“Mungkin karena aku juga nyarinya kayak calon suami, jadi ngobrolnya hal-hal yang serius gitu, misal nanyain pekerjaan.”
Lima hari setelah match, bencana itu datang. Saat Via sedang sibuk di IGD, Bagas menelepon. Awalnya cuma minta tolong isi pulsa beberapa nomor, totalnya sekitar Rp 500 ribu. Alasannya, untuk menghubungi anak buahnya yang sedang mengangkut material.
“Aku iyain karena posisiku lagi jaga IGD, jadi ya sudahlah, biar cepet aja,” ujarnya.
Namun begitu, permintaan itu tak berhenti. Rp 500 ribu beranak-pinak menjadi Rp 2 juta, lalu Rp 5 juta, dan terus membengkak. Bagas berjanji akan mengembalikan uang itu plus bunganya. Via yang terdesak waktu dan mungkin sudah terbuai, terus mengiyakan.
“Pokoknya sampai uang tabungan aku bener-bener habis. Itu sudah di angka seratusan juta,” katanya.
Tapi Bagas masih belum puas. Via bahkan disuruh meminjam uang ke teman-temannya. Dengan alasan yang didiktekan Bagas keluarga sakit, mobile banking error Via pun menghubungi delapan orang temannya. Hasilnya terkumpul Rp 100 juta lagi, yang semuanya ia transfer.
“Akhirnya habis sekitar Rp 220 juta,” ucap Via lirih.
Yang membuatnya ngeri, semua transaksi itu terjadi dalam satu hari. Tak tanggung-tanggung, 48 kali transfer dilakukan tanpa ia sadari sepenuhnya. “Kayak ada hipnotisnya,” tambahnya. Esok harinya, baru ia tersadar. Tabungannya ludes, nomor Bagas sudah tak aktif, dan ia diblokir. Dunianya runtuh seketika.
“Pas aku telepon, udah nggak bisa. Udah diblok.”
Ia menangis, hampir tak kuasa menahan beban. Selain kehilangan uang, ia masih harus mencicil utang ke teman-temannya. Keluarganya berusaha menenangkan, meski Via yakin mereka pasti marah dalam hati.
Lapor Polisi, Tapi Jalan di Tempat
Pukulan berikutnya datang dari pihak yang seharusnya menolong. Via melaporkan kejadian ini ke Polda Metro Jaya sehari setelahnya. Ia membawa semua bukti: percakapan, detail rekening tujuan transfer yang atas nama PT Order Kuota Evolusi. Tapi harapannya pupus.
“Polisi cuma kayak, ‘Mana nomor teleponnya?’ Terus aku kasih. Ditelepon nggak aktif, dia cuma bilang ‘Oh, ini handphone-nya udah nggak aktif, nggak bisa dilacak,’” cerita Via menirukan sang petugas.
Ia pun geram. “Gue ngapain ke polisi, Bambang! Gue bisa ke konter pulsa aja kalau cuma cek nomor aktif atau enggak.”
Via menduga pelaku berkomplot. Sebab, saat telepon, Bagas pernah menyambungkannya dengan orang lain yang mengaku sebagai bosnya. Semua upaya mandiri yang ia lakukan menghubungi bank, aplikasi kencan, bahkan mencoba melacak sendiri berakhir nihil.
Pihak kepolisian membenarkan laporan Via telah masuk. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengatakan proses masih berjalan, namun korban dinilai kerap mundur ketika diminta hadir untuk klarifikasi.
“Jadi korban itu sudah beberapa kali diminta hadir, selalu mundur,” kata Budi.
Menariknya, sebulan sebelum Via tertipu, PT Order Kuota Evolusi Digital sudah mengeluarkan peringatan publik. Nama perusahaan mereka kerap dicatut untuk penipuan online dengan modus mirip: pelaku menjalin hubungan percintaan dulu, lalu mengaku bekerja di perusahaan besar.
Korban Bisa Siapa Saja
Kisah Via bukanlah cerita tunggal. Komunitas Relawan Siaga Cerdas - Waspada Scammer Cinta (RSC-WSC) mencatat peningkatan aduan korban dari tahun ke tahun. Dari hanya 19 korban di tahun 2016 awal mereka berdiri, melonjak jadi 119 orang di 2020. Di tahun 2024 ini, korban yang tercatat masih ratusan, tepatnya 111 orang.
Mereka berasal dari berbagai latar. Muda, tua, berpendidikan tinggi maupun rendah. Love scam benar-benar tak memilih.
Dampaknya pun bisa sangat tragis. Ketua WSC, Diah Agung Esfandari, bercerita tentang seorang korban perempuan di Kalimantan yang tewas bunuh diri setelah ditipu. Saat itu, tenda pernikahan sudah berdiri, tapi sang calon pengantin pria tak kunjung datang.
“Sampai keesokan harinya, dia enggak datang-datang. Si pengantin perempuan masuk ke kamar. Pas digedor, digebrak pintunya, sudah meninggal,” kata Diah.
Modusnya punya pola yang nyaris serupa. Dimulai dari perkenalan cepat, lalu love bombing memberi perhatian berlebihan agar korban nyaman dan mudah dikendalikan. Pelaku akan buru-buru meminta sesuatu, biasanya lewat telepon, karena dianggap lebih efektif menipu daripada pesan teks.
“Setiap transaksi minta duit juga pasti lewat telepon,” tegas Via, yang kini berusaha bangkit.
Dari pengalamannya, ia membagikan ciri-ciri pelaku love scam: foto profil selalu tampan/cantik, mengaku punya pekerjaan mapan, tapi identitasnya sulit dilacak di media sosial. Jika pun ada, akunnya baru dengan follower yang aneh-aneh.
WSC punya tiga tips sederhana: jangan terburu-buru menjalin hubungan, belajar berkata “tidak”, dan yang paling utama jangan pernah mau dimintai uang.
“Kalau mereka enggak bisa berkata ‘tidak’ karena sungkan, delete saja nomornya, enggak usah ditanggapi,” saran Diah.
Via, yang kini masih mencicil utang, hanya bisa berpesan dengan pilu. “Penipuan sekarang banyak banget caranya. Benar-benar harus hati-hati.”
Harapannya sederhana: agar tak ada lagi korban yang merasakan pahitnya ditipu oleh cinta palsu.
Artikel Terkait
Gubernur Kaltim Rudy Masud Minta Maaf soal Renovasi Rumah Dinas Rp25 Miliar, Janji Biayai Sendiri Item Non-Kedinasan
Harga Emas Antam Kembali Turun, Kini Rp2,809 Juta Per Gram
Mahfud MD: Hukum Jamin Hak Pro dan Kontra soal Prabowo, Tapi Pemakzulan Punya Syarat Berat
Raptors Samai Kedudukan Usai Kalahkan Cavaliers 93-89 di Laga Keempat Playoff NBA