Dokter Gadungan dan 48 Transfer dalam Sehari: Kisah Pilu Via, Korban Love Scam Rp220 Juta

- Senin, 26 Januari 2026 | 20:00 WIB
Dokter Gadungan dan 48 Transfer dalam Sehari: Kisah Pilu Via, Korban Love Scam Rp220 Juta

Love scam itu tak pandang bulu. Siapa pun bisa jadi korbannya, bahkan seorang dokter sekalipun. Ambil contoh Via, seorang perempuan berusia 31 tahun yang baru saja kehilangan ratusan juta rupiah. Uang tabungan dan pinjaman temannya itu raib begitu saja, dikuras habis oleh seorang pria yang baru ia kenal lima hari sebelumnya lewat aplikasi kencan.

Awalnya, hari itu tampak biasa saja. Tanggal 13 Oktober 2024, Via sedang bertugas jaga di IGD sebuah rumah sakit di Jakarta. Di sela kesibukannya, telepon dari pria yang ia anggap calon suami itu pun masuk. Siapa sangka, percakapan yang dimulai dengan basa-basi manis itu berubah jadi mimpi buruk.

Via sebenarnya bukan orang yang mudah percaya. Setengah hidupnya dihabiskan untuk mengejar karir di dunia medis hingga akhirnya meraih gelar dokter. Pacaran? Tak ada waktu untuk itu. Di usia 31, ia merasa sudah waktunya mencari pasangan hidup. Maka, ia pun mencoba peruntungan di sebuah aplikasi kencan online.

Di sanalah ia bertemu dengan Bagas. Foto profilnya lumayan, dan obrolan mereka terasa serius membahas pekerjaan, rencana hidup. Bagas mengaku bekerja di perusahaan tambang besar di Kalimantan. Via merasa cocok. Mereka pun pindah ke WhatsApp, beralih dari pesan teks ke telepon. Namun, pertemuan langsung atau video call tak pernah terjadi.

“Cuma obrolan sehari-hari doang,” kenang Via saat diwawancarai pada suatu Kamis di akhir Januari.

“Mungkin karena aku juga nyarinya kayak calon suami, jadi ngobrolnya hal-hal yang serius gitu, misal nanyain pekerjaan.”

Lima hari setelah match, bencana itu datang. Saat Via sedang sibuk di IGD, Bagas menelepon. Awalnya cuma minta tolong isi pulsa beberapa nomor, totalnya sekitar Rp 500 ribu. Alasannya, untuk menghubungi anak buahnya yang sedang mengangkut material.

“Aku iyain karena posisiku lagi jaga IGD, jadi ya sudahlah, biar cepet aja,” ujarnya.

Namun begitu, permintaan itu tak berhenti. Rp 500 ribu beranak-pinak menjadi Rp 2 juta, lalu Rp 5 juta, dan terus membengkak. Bagas berjanji akan mengembalikan uang itu plus bunganya. Via yang terdesak waktu dan mungkin sudah terbuai, terus mengiyakan.

“Pokoknya sampai uang tabungan aku bener-bener habis. Itu sudah di angka seratusan juta,” katanya.

Tapi Bagas masih belum puas. Via bahkan disuruh meminjam uang ke teman-temannya. Dengan alasan yang didiktekan Bagas keluarga sakit, mobile banking error Via pun menghubungi delapan orang temannya. Hasilnya terkumpul Rp 100 juta lagi, yang semuanya ia transfer.

“Akhirnya habis sekitar Rp 220 juta,” ucap Via lirih.

Yang membuatnya ngeri, semua transaksi itu terjadi dalam satu hari. Tak tanggung-tanggung, 48 kali transfer dilakukan tanpa ia sadari sepenuhnya. “Kayak ada hipnotisnya,” tambahnya. Esok harinya, baru ia tersadar. Tabungannya ludes, nomor Bagas sudah tak aktif, dan ia diblokir. Dunianya runtuh seketika.

“Pas aku telepon, udah nggak bisa. Udah diblok.”

Ia menangis, hampir tak kuasa menahan beban. Selain kehilangan uang, ia masih harus mencicil utang ke teman-temannya. Keluarganya berusaha menenangkan, meski Via yakin mereka pasti marah dalam hati.

Lapor Polisi, Tapi Jalan di Tempat

Pukulan berikutnya datang dari pihak yang seharusnya menolong. Via melaporkan kejadian ini ke Polda Metro Jaya sehari setelahnya. Ia membawa semua bukti: percakapan, detail rekening tujuan transfer yang atas nama PT Order Kuota Evolusi. Tapi harapannya pupus.

“Polisi cuma kayak, ‘Mana nomor teleponnya?’ Terus aku kasih. Ditelepon nggak aktif, dia cuma bilang ‘Oh, ini handphone-nya udah nggak aktif, nggak bisa dilacak,’” cerita Via menirukan sang petugas.


Halaman:

Komentar