Dokter Gadungan dan 48 Transfer dalam Sehari: Kisah Pilu Via, Korban Love Scam Rp220 Juta

- Senin, 26 Januari 2026 | 20:00 WIB
Dokter Gadungan dan 48 Transfer dalam Sehari: Kisah Pilu Via, Korban Love Scam Rp220 Juta

Ia pun geram. “Gue ngapain ke polisi, Bambang! Gue bisa ke konter pulsa aja kalau cuma cek nomor aktif atau enggak.”

Via menduga pelaku berkomplot. Sebab, saat telepon, Bagas pernah menyambungkannya dengan orang lain yang mengaku sebagai bosnya. Semua upaya mandiri yang ia lakukan menghubungi bank, aplikasi kencan, bahkan mencoba melacak sendiri berakhir nihil.

Pihak kepolisian membenarkan laporan Via telah masuk. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengatakan proses masih berjalan, namun korban dinilai kerap mundur ketika diminta hadir untuk klarifikasi.

“Jadi korban itu sudah beberapa kali diminta hadir, selalu mundur,” kata Budi.

Menariknya, sebulan sebelum Via tertipu, PT Order Kuota Evolusi Digital sudah mengeluarkan peringatan publik. Nama perusahaan mereka kerap dicatut untuk penipuan online dengan modus mirip: pelaku menjalin hubungan percintaan dulu, lalu mengaku bekerja di perusahaan besar.

Korban Bisa Siapa Saja

Kisah Via bukanlah cerita tunggal. Komunitas Relawan Siaga Cerdas - Waspada Scammer Cinta (RSC-WSC) mencatat peningkatan aduan korban dari tahun ke tahun. Dari hanya 19 korban di tahun 2016 awal mereka berdiri, melonjak jadi 119 orang di 2020. Di tahun 2024 ini, korban yang tercatat masih ratusan, tepatnya 111 orang.

Mereka berasal dari berbagai latar. Muda, tua, berpendidikan tinggi maupun rendah. Love scam benar-benar tak memilih.

Dampaknya pun bisa sangat tragis. Ketua WSC, Diah Agung Esfandari, bercerita tentang seorang korban perempuan di Kalimantan yang tewas bunuh diri setelah ditipu. Saat itu, tenda pernikahan sudah berdiri, tapi sang calon pengantin pria tak kunjung datang.

“Sampai keesokan harinya, dia enggak datang-datang. Si pengantin perempuan masuk ke kamar. Pas digedor, digebrak pintunya, sudah meninggal,” kata Diah.

Modusnya punya pola yang nyaris serupa. Dimulai dari perkenalan cepat, lalu love bombing memberi perhatian berlebihan agar korban nyaman dan mudah dikendalikan. Pelaku akan buru-buru meminta sesuatu, biasanya lewat telepon, karena dianggap lebih efektif menipu daripada pesan teks.

“Setiap transaksi minta duit juga pasti lewat telepon,” tegas Via, yang kini berusaha bangkit.

Dari pengalamannya, ia membagikan ciri-ciri pelaku love scam: foto profil selalu tampan/cantik, mengaku punya pekerjaan mapan, tapi identitasnya sulit dilacak di media sosial. Jika pun ada, akunnya baru dengan follower yang aneh-aneh.

WSC punya tiga tips sederhana: jangan terburu-buru menjalin hubungan, belajar berkata “tidak”, dan yang paling utama jangan pernah mau dimintai uang.

“Kalau mereka enggak bisa berkata ‘tidak’ karena sungkan, delete saja nomornya, enggak usah ditanggapi,” saran Diah.

Via, yang kini masih mencicil utang, hanya bisa berpesan dengan pilu. “Penipuan sekarang banyak banget caranya. Benar-benar harus hati-hati.”

Harapannya sederhana: agar tak ada lagi korban yang merasakan pahitnya ditipu oleh cinta palsu.


Halaman:

Komentar