Islah Bahrawi Libatkan Nama Jokowi dalam Polemik Yaqut
✍🏻 Erizal
Suasana dalam podcast Akbar Faizal Uncensored itu tegang. Cak Islah, atau Islah Bahrawi, tampak benar-benar kesal. Dia bicara soal pentersangkaan Yaqut Cholil Qoumas, mantan Menag yang kini tersandung kasus kuota haji 2024. Suaranya campur aduk antara marah dan sedih. Baginya, Gus Yaqut sahabat dekatnya sedang dikriminalisasi oleh KPK.
Dan di tengah kemarahannya itu, nama Jokowi disebut dengan tegas.
Menurut Cak Islah, Presiden mustahil lepas tangan. "Jokowi harus bicara," begitu kira-kira tekanannya. Ia yakin Jokowi tahu dari awal soal pengelolaan kuota haji yang diberikan Arab Saudi itu. "Omong kosong kalau bilang dia tidak tahu. Itu tipuan kelas tinggi," ujarnya di hadapan Akbar Faizal. Nada bicaranya penuh keyakinan, seolah tak ada ruang untuk keraguan.
Tak cuma sampai di situ. Cak Islah bahkan melemparkan tuduhan lebih spesifik. Katanya, Jokowilah yang melarang Gus Yaqut menghadiri rapat Pansus Haji di DPR. Alih-alih rapat, Gus Yaqut justru ditugaskan ke Perancis untuk mewakili Menteri Pertahanan Prabowo di suatu acara.
Acara itu cuma tiga hari. Tapi Gus Yaqut ternyata berada di Perancis sampai 24 hari.
"Dia seperti layang-layang putus," celetuk Cak Islah, menggambarkan situasi itu. Menurutnya, ketidakhadiran Gus Yaqut di DPR itu merugikan dan menimbulkan tanya. Bagi banyak orang, menghindar sering diartikan sebagai rasa takut. Dan rasa takut itu kerap dikaitkan dengan keterlibatan dalam suatu masalah.
Kemarahan Cak Islah, rupanya, juga bersumber pada ironi yang ia lihat. Gus Yaqut, orang yang dikenal menentang kelompok garis keras dan menggaungkan Pancasila, kini justru jadi pesakitan. Padahal, dulu Gus Yaqut getol menentang korupsi yang melibatkan orang-orang berjubah agama. "Saya yakin Gus Yaqut tidak korupsi," tegasnya.
Keyakinannya itu punya dasar. Saat penggeledahan, KPK tak menyita satu barang pun dari rumah Gus Yaqut. Hanya paspor untuk keperluan pencekalan. Cak Islah menilai ini sebagai bagian dari pencitraan KPK yang biasa-biasa saja. Dia juga menyoroti bahwa pimpinan KPK sekarang adalah orang-orang yang dilantik di era Jokowi. Baginya, Gus Yaqut mungkin cuma sasaran antara. Sasaran sebenarnya? Gus Yahya.
Namun begitu, gaya pembelaan seperti ini sebenarnya sudah lazim. Hampir setiap kali ada pejabat yang ditangkap KPK, muncul narasi serupa: ada tebang pilih, ada orang besar di belakangnya, ada pengkriminalan. Polanya nyaris sama.
Pada akhirnya, semua kembali pada proses hukum. Pembuktian KPK yang akan menjawab. Bongkar-bongkaran kasus Gus Yaqut ini ditunggu banyak pihak. Benar-benar ada barang bukti, atau hanya ilusi belaka? Waktu yang akan menentukan.
Artikel Terkait
Polisi Purbalingga Gagalkan Dua Modus Penyalahgunaan Subsidi LPG dan BBM
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Dharma Santi dan Sampaikan Permohonan Maaf
Ibu Laporkan Perawat RSHS Bandung atas Dugaan Percobaan Penculikan Bayi
Kejati Sulsel Periksa Mantan Pimpinan DPRD Terkait Korupsi Bibit Nanas Rp60 Miliar