Gejolak Selat Hormuz Perpanjang Waktu Pengiriman Bahan Baku Plastik Hingga 50 Hari

- Sabtu, 18 April 2026 | 08:00 WIB
Gejolak Selat Hormuz Perpanjang Waktu Pengiriman Bahan Baku Plastik Hingga 50 Hari

Jakarta - Gejolak di Selat Hormuz ternyata sudah mulai terasa dampaknya di dalam negeri. Menurut Kementerian Perindustrian, rantai pasok bahan baku petrokimia kita mulai tertekan. Yang awalnya cuma butuh sekitar 15 hari, pengiriman sekarang bisa molor sampai 50 hari. Tak hanya lambat, ada juga ancaman harga produk plastik yang mungkin ikut-ikutan naik.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengaku pemerintah terus memantau situasi. Dinamika geopolitik global ini, khususnya buat industri plastik dan petrokimia, memang perlu diawasi ketat.

“Waktu pengiriman yang sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi,” ujar Agus di Jakarta, Kamis (16/4).

Lantas, apa penyebabnya? Rupanya, ini akibat kenaikan biaya pengiriman yang meroket, ditambah ongkos tambahan di pelabuhan, serta jalur distribusi internasional yang kacau. Gabungan faktor-faktor itu akhirnya bikin struktur harga plastik dalam negeri jadi berantakan.

Untuk mengatasi ini, Kemenperin sudah menggelar pertemuan. Mereka menghadirkan pelaku industri dari hulu ke hilir, termasuk para pengusaha daur ulang plastik, buat cari solusi bersama.

Agus bilang, hasil pertemuan itu cukup memberi angin segar. Industri memberikan sinyal positif soal ketersediaan stok bahan baku dan plastik di pasar domestik.

“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat,” katanya.

Tak cuma soal stok, industri juga disebut berkomitmen menjaga suplai buat pelaku usaha kecil. Tujuannya, agar produk mereka tetap bisa bersaing di pasar.

Di sisi lain, pemerintah melihat gangguan global ini justru bisa jadi momentum. Saatnya mempercepat penguatan industri petrokimia nasional agar kita nggak terus-terusan bergantung pada impor.

“Peristiwa ini semakin menegaskan pentingnya membangun industri petrokimia nasional yang kuat dan mandiri, agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus dikurangi,” tegas Agus.

Dalam diskusi itu, muncul juga ide lain. Misalnya, diversifikasi bahan baku dengan substitusi nafta dari sumber dalam negeri, seperti Crude Palm Oil (CPO). Memang, dari segi hitungan ekonomi masih perlu dikaji ulang. Tapi opsi ini dianggap layak dipertimbangkan untuk jangka panjang.

Agus menambahkan, persaingan dapat bahan baku petrokimia antarnegara bakal makin sengit. Ketidakpastian geopolitik global bikin semua negara kalang kabut. Karena itu, pemerintah berjanji akan terus menjaga ketahanan sektor manufaktur dan memastikan akses bahan baku yang kompetitif bagi industri dalam negeri.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar