Laba Bersih DADA Melonjak Tiga Kali Lipat Meski Arus Kas Operasi Negatif

- Jumat, 17 April 2026 | 07:35 WIB
Laba Bersih DADA Melonjak Tiga Kali Lipat Meski Arus Kas Operasi Negatif

PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) baru saja merilis laporan kinerjanya untuk tahun 2025. Hasilnya? Cukup menarik. Emiten properti yang berkantor di Depok ini berhasil membukukan pendapatan Rp43,13 miliar. Angka itu menunjukkan pertumbuhan sekitar 16,5% dibanding tahun 2024, yang pendapatannya 'cuma' Rp37,02 miliar.

Kalau dirunut, seluruh pendapatan tahun lalu itu bersumber dari satu proyek: Apple Residence 3. Dan di sini ceritanya jadi seru. Dari proyek tunggal tersebut, pendapatan DADA melonjak fantastis, sampai 500 persen! Mereka meraup Rp41,68 miliar, sebuah kenaikan yang sangat signifikan.

Lalu bagaimana dengan proyek-proyek sebelumnya? Nah, ini perubahannya. Di tahun 2024, DADA masih mendapat pemasukan dari Apple Residences 1 dan Apartemen Dave, masing-masing Rp19,57 miliar dan Rp10,68 miliar. Namun di 2025, kontribusi kedua aset itu bergeser. Kini, mereka lebih banyak menghasilkan pendapatan sewa, berkat kerja sama pengelolaan dengan PT Permata Citra Inovasi. Apple Residences 1 menyumbang Rp60 juta, sementara Apartemen Dave memberikan Rp950 juta.

Di sisi lain, laba kotornya terlihat stabil di angka Rp22,9 miliar. Tapi jangan senang dulu. Margin laba kotor justru turun ke level 53%, terdampak oleh naiknya beban pokok pendapatan.

Laba operasional pun ikut tertekan, turun 4% menjadi Rp9,3 miliar. Penyebab utamanya adalah membengkaknya beban administrasi menjadi Rp11,3 miliar. Lonjakan ini terutama disebabkan oleh pengeluaran untuk operasi lain yang mencapai Rp3,5 miliar.

Tapi di tengah itu semua, ada kabar baik. Laba bersih DADA justru melonjak lebih dari tiga kali lipat, menjadi Rp3,5 miliar! Pencapaian ini terutama berkat penurunan beban keuangan yang cukup signifikan.

Mengintip neraca, gambaran keuangannya cukup beragam. Posisi kas dan setara kas merosot ke Rp2,99 miliar. Sebaliknya, persediaan malah membengkak jadi Rp154 miliar. Piutang usaha juga naik dua kali lipat, mencapai Rp16,96 miliar.

Di bagian liabilitas, terjadi penurunan 2,4% menjadi Rp283,74 miliar. Ada hal menarik di sini: utang bank anjlok 78% menjadi Rp16,09 miliar. Namun begitu, muncul pos baru berupa utang pinjaman senilai Rp57,6 miliar.

Meski laba bersihnya naik tajam, kondisi arus kas operasi justru memprihatinkan. Arus kas dari aktivitas operasi berbalik menjadi negatif Rp7,06 miliar. Padahal, tahun sebelumnya positif Rp19,09 miliar. Ironisnya, penerimaan kas dari pelanggan justru melesat 68% menjadi Rp69 miliar.

Lalu kemana larinya uang itu? Rupanya, pembayaran kas untuk operasi lainnya meledak 790% menjadi Rp66,77 miliar. Beban keuangan yang dibayar juga ikut-ikutan naik, lebih dari dua kali lipat menjadi Rp16,62 miliar. Lonjakan pengeluaran inilah yang diduga menjadi penyebab utama arus kas operasi yang negatif tadi.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar