Sejarah punya cerita yang berulang. Negara-negara besar tak runtuh oleh serangan musuh di medan perang. Mereka ambruk dari dalam, pelan-pelan, saat fondasi intelektual warganya mulai keropos. Di sini, pendidikan adalah infrastruktur terpenting. Dan gurulah aktor utamanya. Melemahkan pendidikan sama saja dengan menyiapkan kehancuran sistematis, perlahan, dan sering tak disadari.
Pendidikan, kalau kita tilik lebih dalam, bukan cuma soal memindahkan ilmu dari buku ke kepala murid. Ia adalah upaya memanusiakan manusia. Dari pemikiran Plato sampai Ki Hadjar Dewantara, esensinya tetap sama: membentuk jiwa, karakter, dan nalar yang kritis. Guru dalam hal ini bukan sekadar pegawai. Mereka adalah penjaga api peradaban. Nah, ketika peran mereka dipinggirkan dalam kebijakan, yang terjadi bukan cuma soal anggaran yang timpang. Makna pendidikan itu sendiri yang terdegradasi.
Di sisi lain, teori negara modern memang menempatkan pendidikan sebagai investasi. Human capital, begitu istilah kerennya. Ia diharapkan mendongkrak produktivitas dan inovasi. Tapi teori itu jadi jomplang saat negara hanya melihat pendidikan sebagai proyek teknokratis belaka. Sekadar program, logistik, dan angka-angka di laporan. Subjek utamanya, yaitu proses belajar manusia, justru terabaikan.
Di sinilah ironi itu muncul. Menurut sejumlah saksi di lapangan, negara terkesan lebih memprioritaskan pegawai penunjang sistem. Ambil contoh pekerja di lembaga seperti SPPG. Status dan kesejahteraannya sering lebih pasti dibanding guru honorer yang bertahun-tahun mengabdi di garis depan. Padahal, merekalah yang memikul beban nyata di akar rumput.
Ini bukan persoalan gaji semata. Lebih dari itu, ini soal pesan ideologis yang dikirim negara. Seolah-olah, kerja administratif dan operasional lebih bernilai ketimbang kerja intelektual serta pedagogis. Bayangkan, ketika seorang sopir di instansi tertentu penghasilannya bisa lebih tinggi dari guru honorer, terjadi inversi nilai. Sadar atau tidak, negara sedang mengajarkan satu pelajaran keliru: mendistribusikan program lebih penting daripada mencerdaskan anak bangsa.
Artikel Terkait
Novel Bamukmin Diperiksa Polisi sebagai Pelapor Kasus Pandji Pragiwaksono
Kodam III/Siliwangi Telusuri Kabar 23 Prajurit Terdampak Longsor Cisarua
Kisah Hogi: Mengejar Penjambret, Berujung Restorative Justice
Aktivis Muhammadiyah Soroti Pencabutan HGU: Prabowo Tunjukkan Ketegasan Lawan Oligarki