Karina Ranau Lepas Epy Kusnandar di Jeruk Purut dengan Doa dan Air Mata

- Kamis, 04 Desember 2025 | 13:20 WIB
Karina Ranau Lepas Epy Kusnandar di Jeruk Purut dengan Doa dan Air Mata

Di Jeruk Purut, Karina Ranau Ucapkan Selamat Jalan untuk Epy Kusnandar

Suasana haru masih terasa pekat di TPU Jeruk Purut, Kamis (4/12) siang. Karina Ranau, dengan mata sembap, harus melepas kepergian suaminya, Epy Kusnandar, untuk selamanya. Aktor yang dikenal lewat karakter Kang Mus dalam "Preman Pensiun" itu berpulang sehari sebelumnya, Rabu (3/12), di Rumah Sakit PON Jakarta tepat pukul 14.24 WIB.

Setelah prosesi pemakaman usai, Karina tak kuasa menahan air mata. Di hadapan keluarga dan kerabat yang hadir, ia menyampaikan permohonan maaf. Suaranya terputus-putus, penuh perasaan.

"Selama beliau masih hidup, mungkin ada sikap, ada ucapan atau ada perbuatan yang kurang berkenan," ujarnya.

"Mohon dibukakan pintu maaf yang sedalam-dalamnya."

Di tengah kesedihan yang mendalam, ia juga menyelipkan doa. Sebuah harapan yang tulus dari seorang istri untuk suami tercinta.

"Semoga suami saya dilancarkan perjalanannya menuju surga," lanjut Karina, berusaha tegar.

Sebelumnya, keluarga telah membeberkan penyebab meninggalnya Epy. Menurut penjelasan mereka, kondisi kritis bermula dari gagalnya fungsi organ vital. Namun begitu, titik krusialnya adalah penyumbatan pada pembuluh darah di batang otak.

Deniar Hendarsyah, adik Epy, mencoba menjelaskan betapa fatalnya kondisi tersebut.

"Penyumbatan pembuluh darah di batang otak. Katanya ukurannya cuma segini," ujar Deniar sambil memberi isyarat dengan jarinya.

"Batang otak itu sendiri kecil. Yang tersumbat cuma satu, tapi itu pusat kontrol kehidupan. Gerak, napas, semuanya."

Akibatnya, Epy mengalami semi-koma dengan tekanan darah yang melonjak tinggi dan tak kunjung turun. Situasi ini membuat tim medis tak bisa melakukan intervensi operasi. Semua upaya sudah dilakukan. Mulai dari pemberian oksigen hingga obat-obatan khusus untuk meningkatkan kesadarannya. Sayangnya, kondisi Epy justru terus merosot.

Deniar menuturkan detik-detik penghabisan. Ruangan rumah sakit dipenuhi sanak keluarga yang berusaha memberi semangat.

"Kami bertahan berjam-jam, bahkan beberapa menit terakhir rasanya sangat panjang. Sampai akhirnya, di pukul 14.24, detak jantungnya berhenti. Napasnya pun tak terdengar lagi," kenangnya.

Kini, segala kenangan telah berpulang bersama almarhum. Tinggal duka yang harus dijalani oleh Karina, kedua putra mereka, Tegar, dan seluruh keluarga besar.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar