Fakta di lapangan membuktikan hal ini. Berbagai studi menunjukkan korelasi langsung antara kesejahteraan guru dan kualitas pendidikan. Guru yang hidup dalam ketidakpastian akan mengalami kelelahan struktural. Motivasi turun, profesionalisme tergerus, kreativitas mengajar mandek. Dampak jangka panjangnya mengerikan: lahir generasi yang miskin daya kritis dan mudah dibentuk. Pendidikan mungkin masih "jalan" secara administratif. Kelas ada, kurikulum selesai diacu, program-program diluncurkan. Tapi substansinya? Kosong.
Percaya bahwa program akan tetap berjalan tanpa guru yang diperhatikan adalah ilusi. Program, secanggih apa pun, tak punya kehendak moral. Ia tak paham konteks kesulitan seorang siswa. Tak bisa menanamkan nilai. Dan mustahil menjadi teladan. Pertanyaan mendasarnya sederhana: kalau gurunya tak ada, apa pendidikan benar-benar terjadi? Atau yang berjalan cuma mesin birokrasi bernama "sekolah" yang kehilangan jiwa?
Retorika dan realita sering bertolak belakang. Pendidikan selalu disebut pilar pencerdasan bangsa. Tapi dalam praktiknya, guru justru diperlakukan sebagai variabel yang bisa ditunda. Bisa dinegosiasikan, bahkan dikorbankan. Inilah bentuk penghancuran yang paling halus. Bukan dengan menutup sekolah, tapi dengan membiarkan pilar-pilarnya hidup dalam ketidakpastian.
Jadi, menghancurkan sebuah peradaban tak perlu pelarangan belajar atau pembakaran buku. Cukup abaikan gurunya. Rendahkan martabat profesinya. Ganti visi pendidikan dengan logika proyek semata. Negara yang memilih jalan ini mungkin masih berdiri tegak secara administratif. Tapi secara intelektual dan moral, ia sedang berjalan sendiri menuju senja.
Artikel Terkait
Novel Bamukmin Diperiksa Polisi sebagai Pelapor Kasus Pandji Pragiwaksono
Kodam III/Siliwangi Telusuri Kabar 23 Prajurit Terdampak Longsor Cisarua
Kisah Hogi: Mengejar Penjambret, Berujung Restorative Justice
Aktivis Muhammadiyah Soroti Pencabutan HGU: Prabowo Tunjukkan Ketegasan Lawan Oligarki