Suasana Hotel Aryaduta di Jakarta Pusat Kamis malam itu cukup ramai. Sekitar 500 orang berkumpul untuk buka puasa bersama yang digelar Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia. Yang bikin acara ini menarik, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hadir langsung di tengah-tengah mahasiswa.
Dia datang bukan cuma untuk silaturahmi. Dalam sambutannya, Sigit bercerita banyak. Salah satu poin penting yang ditegaskannya adalah soal perubahan paradigma di tubuh Polri. "Kita memiliki paradigma baru," ujarnya. "Bagaimana yang tadinya kita menjaga menjadi melayani. Itu sudah kita sampaikan bahwa itu adalah tugas dari kita semua, khususnya jajaran Polri."
Agenda bertema 'Bersatu di Bulan Suci Ramadhan Wujudkan Asta Cita' ini juga dihadiri sejumlah tokoh. Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam Hamdan Zoelva dan Ketum PB SEMMI Bintang Wahyu Saputra tampak duduk berdampingan dengan para pejabat tinggi Polri.
Mengawali bicara, Sigit menyebut pertemuan di bulan Ramadan ini sebagai momentum luar biasa. Rasa syukurnya tak cuma untuk silaturahmi, tapi juga karena bertepatan dengan konsolidasi nasional organisasi tersebut.
"Ini adalah suatu momentum dan kesempatan luar biasa yang harus kita syukuri. Saya mengucapkan selamat melaksanakan ibadah puasa dan mewakili institusi mengucapkan mohon maaf lahir dan batin," kata Sigit.
Suasana pun makin cair saat Kapolri mulai bercanda. Dia mengaku senang bertemu aktivis, bahkan punya rencana pensiun yang tak biasa.
"Betul kata Pak Hamdan, orang tua kita, bahwa saya sudah bertemu banyak aktivis dan alhamdulillah, rencana setelah pensiun saya mau jadi aktivis. Jadi saya kira bergurunya sudah cukup banyaklah. Mulai dari saya mengajak diskusi sampai saya didemo pun sudah sering,"
Kelakar itu langsung disambut gelak tawa hadirin.
Namun begitu, pesan seriusnya tentang persatuan tak kalah penting. Sigit mengingatkan, sejarah Indonesia dulu menunjukkan betapa kita mudah dipecah-belah. Itu jangan terulang.
Menurutnya, persatuan adalah kunci utama, apalagi melihat konstelasi global yang sedang tidak baik-baik saja. Dampak konflik Timur Tengah, misalnya, juga bisa berpengaruh ke dalam negeri.
"Boleh kita berbeda-beda di dalam pikiran dan pendapat, namun ada satu hal yang harus kita jaga, sampai di batas mana kita tetap harus menjaga persatuan untuk negara tercinta. Tahun 2030-2035 adalah momentum bonus demografi kita untuk melompat menjadi negara maju. Jangan sampai momentum ini lewat karena kita terpecah belah," tegasnya.
Di sisi lain, Sigit menegaskan Polri sangat menghargai ruang berekspresi. Itu amanat reformasi yang coba dijalankan dengan mengubah wajah institusi agar lebih humanis.
Menutup sambutan, ada pesan khusus yang dititipkannya untuk para mahasiswa.
"Saya titip institusi Polri. Mungkin ada yang nakal-nakal tolong ditegur, tolong dimarahi. Tapi yang baik tolong dijagain. Yang jelas institusi Polri akan melanjutkan apa yang menjadi amanah reformasi," pungkas Sigit.
Acara malam itu bukan cuma berisi ceramah dan makan bersama. Ada aksi nyata juga. Kapolri menyerahkan santunan dan paket sembako secara simbolis 50 paket sembako berisi beras, minyak, gula, dan lain-lain, plus 50 paket santunan untuk anak yatim.
Kehadiran sejumlah pejabat tinggi Polri seperti Kabaintelkam Komjen Yuda Gustawan, As SDM Irjen Anwar, Kadiv Propam Irjen Abdul Karim, Kadiv Humas Johnny Eddizon Isir, dan Kapusdokkes Irjen Asep Hendradiana menegaskan keseriusan agenda ini.
Intinya, forum ini lebih dari sekadar buka puasa biasa. Ini adalah penekanan akan peran strategis pemuda dan intelektual dalam merawat persatuan, terutama di bulan Ramadan, untuk mendukung target pembangunan nasional.
Artikel Terkait
Resepsi El Rumi dan Syifa Hadju Meriah, Ribuan Tamu Termasuk Prabowo dan Gibran Hadir
Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Hokkaido, Jepang, Belum Ada Laporan Kerusakan
Pelita Jaya Kokoh di Puncak Klasemen IBL Usai Hajar RANS Simba 87-58
AC Milan vs Juventus Imbang 0-0, Persaingan Tiket Liga Champions Makin Ketat