Kapolri Tegaskan Perubahan Paradigma Polri: Dari Menjaga ke Melayani

- Kamis, 12 Maret 2026 | 20:55 WIB
Kapolri Tegaskan Perubahan Paradigma Polri: Dari Menjaga ke Melayani

Suasana Hotel Aryaduta di Jakarta Pusat Kamis malam itu cukup ramai. Sekitar 500 orang berkumpul untuk buka puasa bersama yang digelar Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia. Yang bikin acara ini menarik, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hadir langsung di tengah-tengah mahasiswa.

Dia datang bukan cuma untuk silaturahmi. Dalam sambutannya, Sigit bercerita banyak. Salah satu poin penting yang ditegaskannya adalah soal perubahan paradigma di tubuh Polri. "Kita memiliki paradigma baru," ujarnya. "Bagaimana yang tadinya kita menjaga menjadi melayani. Itu sudah kita sampaikan bahwa itu adalah tugas dari kita semua, khususnya jajaran Polri."

Agenda bertema 'Bersatu di Bulan Suci Ramadhan Wujudkan Asta Cita' ini juga dihadiri sejumlah tokoh. Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam Hamdan Zoelva dan Ketum PB SEMMI Bintang Wahyu Saputra tampak duduk berdampingan dengan para pejabat tinggi Polri.

Mengawali bicara, Sigit menyebut pertemuan di bulan Ramadan ini sebagai momentum luar biasa. Rasa syukurnya tak cuma untuk silaturahmi, tapi juga karena bertepatan dengan konsolidasi nasional organisasi tersebut.

"Ini adalah suatu momentum dan kesempatan luar biasa yang harus kita syukuri. Saya mengucapkan selamat melaksanakan ibadah puasa dan mewakili institusi mengucapkan mohon maaf lahir dan batin," kata Sigit.

Suasana pun makin cair saat Kapolri mulai bercanda. Dia mengaku senang bertemu aktivis, bahkan punya rencana pensiun yang tak biasa.

"Betul kata Pak Hamdan, orang tua kita, bahwa saya sudah bertemu banyak aktivis dan alhamdulillah, rencana setelah pensiun saya mau jadi aktivis. Jadi saya kira bergurunya sudah cukup banyaklah. Mulai dari saya mengajak diskusi sampai saya didemo pun sudah sering,"

Kelakar itu langsung disambut gelak tawa hadirin.

Namun begitu, pesan seriusnya tentang persatuan tak kalah penting. Sigit mengingatkan, sejarah Indonesia dulu menunjukkan betapa kita mudah dipecah-belah. Itu jangan terulang.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar