Tanggal 25 Januari selalu jadi pengingat tahunan: Hari Gizi Nasional. Di tengah ramainya obrolan soal diet kekinian dan suplemen, ada satu hal yang kerap terlewat. Kita lupa, bahwa gizi seimbang bukan cuma soal apa yang masuk ke mulut, tapi juga tentang makhluk-makhluk kecil di dalam usus yang membantu kita mencernanya.
Lebih dari Sekadar Kalori dan Vitamin
Bicara gizi, pikiran kita langsung melayang ke karbohidrat, protein, atau vitamin. Pedoman "Isi Piringku" dari Kemenkes pun mengajarkan pembagian porsi yang ideal. Tapi sebenarnya, ada cerita lain yang tak kalah penting. Gizi yang seimbang juga sangat bergantung pada bagaimana tubuh kita menyerap semua nutrisi itu. Nah, di sinilah peran mereka mikroorganisme baik atau probiotik mulai bermain.
Probiotik itu hidup, lho. Triliunan bakteri, virus, dan jamur tinggal di saluran pencernaan kita, membentuk sebuah ekosistem rumit bernama mikrobiota usus. Bayangkan saja, ini seperti punya organ tambahan yang sibuk membantu mencerna makanan, memproduksi nutrisi, dan sekaligus jadi benteng pertahanan dari serangan penyakit.
Warisan Probiotik di Meja Makan Kita
Sebenarnya, tanpa sadar kita sudah akrab dengan probiotik sejak dulu. Lihat saja tempe. Makanan yang sudah mengakar dalam budaya kita ini diolah lewat fermentasi kapang Rhizopus. Proses itu bukan cuma meningkatkan protein dan memudahkan pencernaan, tapi juga menciptakan senyawa-senyawa baik untuk tubuh. Atau yogurt, yang mengandung bakteri asam laktat macam Lactobacillus. Jadi, sumber bakteri baik itu sebenarnya dekat dan mudah didapat.
Prebiotik: Si Penyedia Makanan
Tapi, cuma mengundang bakteri baik saja tidak cukup. Mereka butuh makan untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Di sinilah prebiotik berperan. Pada dasarnya, prebiotik adalah jenis serat khusus yang tak bisa dicerna tubuh kita, tapi justru jadi santapan lezat bagi mikroba usus.
Artikel Terkait
Moving: Drama Superhero Korea yang Curi Perhatian dan Raih Daesang
Korban Penjambretan di Sleman Berbalik Jadi Tersangka Usai Kejar Pelaku
Dahlan Iskan Ungkap Kerugian Rp2 Triliun Akibat Guncangan Harga Batu Bara
Potret Pahit Pendidikan Indonesia: Skor TKA 2025 Buka Mata dan Jurang Antardaerah