“[Tadi] ada yang mungkin rumahnya rusak ringan, tapi sawahnya habis. Maka ini diberikan uang stimulan 5 juta rupiah, sambil menunggu program revitalisasi sawah yang dilakukan oleh Menteri Pertanian,” jelas Tito.
Ya, pemulihan ekonomi memang jadi perhatian lain. Kementerian Pertanian akan menjalankan program revitalisasi sawah di tiga provinsi itu. Bagi keluarga yang ekonominya terpuruk pascabencana, mereka bisa diintegrasikan ke Program Keluarga Harapan (PKH) untuk mendapat bantuan sosial rutin. Durasi bantuannya nanti ditentukan oleh kepala daerah.
Namun begitu, semua program ini akan mentah tanpa data yang akurat dan cepat. Tito menekankan betul poin ini pada pemerintah daerah. Ia minta bupati dan wali kota mengirim data secara bertahap, tidak perlu menunggu semuanya rampung. Data itu lalu diteruskan ke gubernur, kemudian ke Kemensos dan satgasnya.
“Nanti [data tersebut] kita akan sampaikan kepada Menteri Sosial. Menteri Sosial akan segera mengeksekusi anggaran tadi untuk perabotan,” tandasnya.
Ia bahkan tak sungkan mengancam akan mengumumkan daerah yang telat menyerahkan data. Semua untuk mendorong akuntabilitas dan kecepatan. “Karena ini butuh kecepatan, Pak Mensos juga menunggu data dari kita,” imbuhnya.
Acara peresmian huntara itu sendiri dihadiri sejumlah pejabat tinggi. Tampak hadir Menko PMK Pratikno, Kepala BNPB Suharyanto, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, dan Bupati Agam Benni Warlis. Kehadiran mereka menegaskan betapa seriusnya pemerintah menangani pemulihan pascabencana ini.
Artikel Terkait
Tanah Longsor Tewaskan 10 Jiwa, 82 Warga Pasirlangu Masih Hilang
Ayah di Magelang Perkosa Anak Kandung Selama Empat Tahun, Dalih Kerasukan Jadi Modus
Polisi Gagalkan Peredaran Sabu dan Ribuan Ekstasi di Jakarta-Bekasi
Jenazah Capt Andy Tiba di Tigaraksa, Keluarga Siap Beri Penghormatan Terakhir