Bagi Bima, isu pengendalian tembakau ini punya relevansi yang kuat. Ia melihatnya selaras dengan agenda pembangunan nasional, Asta Cita, yang menempatkan kesehatan masyarakat sebagai prioritas. Ia menegaskan hal ini dengan nada yang cukup kental.
“Isu ini sangat penting, karena selaras dengan Asta Cita untuk mengendalikan tembakau juga zero poverty, dan mendukung agar anak-anak Indonesia semakin sehat,” tegasnya.
Di sisi lain, summit 2026 nanti sudah dipastikan akan ramai. Rencananya, puluhan kepala daerah dari berbagai penjuru Indonesia akan hadir. Mereka bukan peserta biasa, melainkan para pemimpin yang dinilai sudah memberikan contoh nyata dalam menerapkan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di wilayahnya masing-masing.
“Dan salah satunya adalah Jakarta,” katanya menyebut satu contoh.
“Yang baru saja mengesahkan Perda KTR yang melakukan langkah monumental.”
Melalui persiapan yang digelar di Bogor ini, harapan Bima cukup besar. Ia ingin APCAT Summit 2026 nanti bukan sekadar seremoni. Tapi lebih dari itu, ia berharap forum itu bisa jadi wadah strategis bagi para kepala daerah. Tempat untuk mempererat kolaborasi, bertukar pengalaman terbaik, dan yang utama, mendorong kebijakan kesehatan publik yang tak hanya ambisius, tapi juga berbasis bukti ilmiah yang solid. Sebuah langkah konkret yang dimulai dari sebuah pagi di pendopo.
Artikel Terkait
Kelme Luncurkan Jersey Timnas Indonesia dengan Teknologi Jacquard dan Emblem Silikon 3D
IHSG Melemah 0,37%, Analis Soroti Potensi Koreksi dan Peluang Penguatan
BSI Gelar Festival Ramadan di Makassar, Tawarkan Diskon Umrah hingga DP 0% Kendaraan
IJTI Peringatkan Perjanjian Dagang RI-AS Ancam Media Nasional