Jumat lalu (23/1), suasana di Bank Sampah Alamanda, RW 01 Mangunsari, Gunungpati, tampak berbeda. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyempatkan diri hadir dalam acara Temu Warga Lokal. Yang dia saksikan di sana, rupanya, bukan sekadar tumpukan plastik atau kardus bekas. Melainkan sebuah sistem pengelolaan sampah yang berjalan rapi dan yang lebih penting memberi manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.
Agustina tak menyembunyikan rasa bangganya. Di hadapan warga, dia mengapresiasi pola kerja yang diterapkan bank sampah ini. Beban sampah yang biasanya jadi masalah, di tangan warga Mangunsari justru berubah menjadi tabungan yang punya nilai rupiah.
“Saya sangat bangga melihat konsistensi warga di RW 01 Mangunsari ini. Mereka tidak lagi membuang sampah secara sembarangan, melainkan sudah memilahnya sejak dari rumah. Ini adalah contoh konkret masyarakat aktif dalam menjaga kebersihan lingkungannya,” ujarnya.
Menurutnya, kunci keberhasilan ada pada sistem berjenjang yang mereka jalankan. Semua berawal dari rumah tangga. Warga memilah sampahnya sendiri, lalu dikumpulkan di tingkat RT, sebelum akhirnya diolah lebih lanjut di bank sampah.
Nah, di Bank Sampah Alamanda inilah prosesnya makin detail. Sampah anorganik dipilah lagi berdasarkan jenis dan harganya. Hasil penjualannya tidak langsung dibagi-bagikan, lho. Uang itu dikonversi jadi saldo tabungan yang bisa dicairkan pada waktu-waktu tertentu, misalnya jelang Lebaran atau akhir tahun.
“Di sini, sampah plastik dan kertas dipilah sesuai jenis dan nilai ekonomisnya untuk dijual ke pengepul. Hasilnya tidak langsung habis, tapi dijadikan tabungan warga yang baru dibagikan saat akhir tahun atau menjelang Lebaran. Ini pola yang luar biasa karena membantu ekonomi keluarga sekaligus mengurangi beban TPA kita,” imbuhnya.
Prestasinya pun nyata. Bank Sampah Alamanda konsisten menjadi Juara I Lomba Proklim Tingkat Kota Semarang tahun 2024. Bahkan, puncaknya, mereka berhasil meraih Penghargaan Proklim 2025 Kategori Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup. Bagi Agustina, ini bukti nyata bahwa konsistensi, gotong royong, dan kepemimpinan warga bisa menciptakan sistem pengelolaan sampah yang tangguh.
Namun begitu, dia punya harapan yang lebih besar. Model dari Mangunsari ini dianggapnya sebagai prototipe yang semestinya bisa ditiru. Bukan cuma di satu wilayah, tapi oleh ribuan RW lain di seluruh Semarang. Inovasi semacam ini, dalam pandangannya, adalah solusi paling efektif untuk menekan volume sampah sejak dari sumbernya.
“Harapan saya, apa yang sudah dilakukan oleh Ibu Tri Kayati (Ketua Bank Sampah Alamanda – red) dan warga di sini bisa direplikasi di wilayah lain. Tidak harus sama persis, tetapi semangatnya: pilah dari rumah, tertib, dan dikelola bersama,” kata Agustina.
“Pemkot Semarang akan terus mendampingi agar ekosistem bank sampah makin merata dan berdaya. Jika semua wilayah mampu mandiri mengelola sampah, saya yakin persoalan lingkungan di Kota Semarang akan tuntas secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur Tewaskan Dua Orang, Puluhan Luka-Luka
PSM Makassar Takluk 2-0 dari Bali United Usai Kartu Merah di Babak Pertama
Tabrakan Frontalka Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Jalur Kereta Lumpuh Total
Harga Minyak Goreng Meroket, INDEF Ungkap Lonjakan Biaya Plastik Kemasan Ikut Jadi Pemicu