“Di sini, sampah plastik dan kertas dipilah sesuai jenis dan nilai ekonomisnya untuk dijual ke pengepul. Hasilnya tidak langsung habis, tapi dijadikan tabungan warga yang baru dibagikan saat akhir tahun atau menjelang Lebaran. Ini pola yang luar biasa karena membantu ekonomi keluarga sekaligus mengurangi beban TPA kita,” imbuhnya.
Prestasinya pun nyata. Bank Sampah Alamanda konsisten menjadi Juara I Lomba Proklim Tingkat Kota Semarang tahun 2024. Bahkan, puncaknya, mereka berhasil meraih Penghargaan Proklim 2025 Kategori Utama dari Kementerian Lingkungan Hidup. Bagi Agustina, ini bukti nyata bahwa konsistensi, gotong royong, dan kepemimpinan warga bisa menciptakan sistem pengelolaan sampah yang tangguh.
Namun begitu, dia punya harapan yang lebih besar. Model dari Mangunsari ini dianggapnya sebagai prototipe yang semestinya bisa ditiru. Bukan cuma di satu wilayah, tapi oleh ribuan RW lain di seluruh Semarang. Inovasi semacam ini, dalam pandangannya, adalah solusi paling efektif untuk menekan volume sampah sejak dari sumbernya.
“Harapan saya, apa yang sudah dilakukan oleh Ibu Tri Kayati (Ketua Bank Sampah Alamanda – red) dan warga di sini bisa direplikasi di wilayah lain. Tidak harus sama persis, tetapi semangatnya: pilah dari rumah, tertib, dan dikelola bersama,” kata Agustina.
“Pemkot Semarang akan terus mendampingi agar ekosistem bank sampah makin merata dan berdaya. Jika semua wilayah mampu mandiri mengelola sampah, saya yakin persoalan lingkungan di Kota Semarang akan tuntas secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Hujan Deras Picu Status Siaga di Sejumlah Pintu Air Jabodetabek
Gedung Pemerintah Aceh Tamiang Bangkit, Berkat Tenaga Praja IPDN
Bima Arya Gelar Rapat Kunci, Siapkan Panggung APCAT Summit 2026 di Jakarta
Hakim Bebaskan Admin Mahasiswa karena Dakwaan Aplikasi Canva atau Lainnya Dinilai Tak Jelas