Di sisi lain, dari kacamata ekonomi, MBG punya potensi luar biasa. Kebutuhan pangan yang rutin dan nasional ini bisa menjadi pasar yang stabil bagi petani, nelayan, dan UMKM lokal. Jika diatur dengan baik, dampak penggandanya bisa nyata: membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi daerah.
Setiap porsi makanan seharusnya jadi buah kerja warga lokal. Bukan produk dari rantai pasok tertutup yang jauh dari masyarakat.
Tapi potensi ini tak akan jadi kenyataan tanpa tata kelola yang cermat. Negara harus hindari distorsi pasar. Jangan sampai produsen kecil malah tergantung pada satu pembeli besar, atau pasar rakyat tersingkir karena sistem yang terlalu tersentralisasi. Peran negara adalah memastikan akses terbuka dan persaingan sehat, dengan keberpihakan yang jelas pada ekonomi lokal.
Teknologi, tentu saja, bisa jadi alat bantu yang strategis. Untuk memetakan kebutuhan, mengelola rantai pasok, memantau distribusi. Ia bisa mendorong transparansi dan efisiensi. Tapi teknologi bukan solusi ajaib.
Tanpa tata kelola yang kuat dan manusia yang berintegritas, teknologi cuma jadi alat pembenaran bagi sistem yang bobrok. Pengawasan publik dan umpan balik dari lapangan tetap yang paling utama.
Wilayah 3T tertinggal, terdepan, terluar harus jadi prioritas. Di sana, MBG bukan sekadar program gizi. Ia adalah simbol kehadiran negara. Tapi simbol saja tak memadai. Sekolah di daerah 3T butuh fasilitas layak, guru yang sejahtera, dukungan yang nyata. MBG harus menguatkan, bukan menutupi kekurangan struktural yang sudah lama ada.
Pada akhirnya, pertanyaan apakah MBG ini mesin gizi, mesin ekonomi, atau mesin uang, bukan untuk dipertentangkan. Ia harus diarahkan.
MBG bisa dan harus jadi ketiganya: mesin gizi untuk kesehatan anak, mesin ekonomi untuk menggerakkan usaha riil, dan mesin sistem yang transparan. Yang tidak boleh adalah ia berhenti sebagai mesin uang yang berputar hanya untuk mengurusi dirinya sendiri.
Jika dikelola dengan fokus pada sekolah, ekonomi lokal, dan tata kelola yang sehat, program ini bisa jadi investasi jangka panjang bagi bangsa. Bukan cuma proyek besar yang ramai dibicarakan hari ini.
Depok, 22 Januari 2026.
") Penulis adalah Ketua Bidang Kebijakan Nasional IA-ITB dan Mahasiswa Magister Medkom Komunikasi Krisis UP.
Artikel Terkait
Garuda Indonesia Gelar Travel Fair, Siapkan 40 Ribu Kursi Promo untuk Umrah dan Haji
Bukan Pesut, Lumba-Lumba Putih yang Muncul di Sungai Asahan
Gadis 11 Tahun Nekat Jalan Kaki 17 Km Sendirian di Malam Hari untuk Temui Nenek
Wali Kota Tangerang Alihkan Belajar ke Daring, Imbas Banjir yang Belum Surut