MBG: Antara Cita-Cita Gizi dan Dinamika Ekonomi
Oleh: Teuku Gandawan Xasir"
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir dengan janji yang mulia. Harapannya jelas: memperbaiki gizi anak-anak sekolah, khususnya mereka yang paling rentan. Tapi, program sebesar ini tak pernah berjalan dalam ruang hampa.
Nyatanya, di sekelilingnya muncul dinamika ekonomi yang riuh. Ambil contoh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Di situ ada peluang usaha, aliran dana, dan lapangan kerja yang tak sedikit. Wajar saja banyak pihak yang bergairah. Logika rakyat biasa sederhana: di mana ada gula, di situ ada semut.
Munculnya kegiatan ekonomi baru sebenarnya bukan hal yang salah. Setiap kebijakan publik berskala nasional pasti menciptakan efek domino seperti ini. Persoalannya bukan pada ada atau tidaknya aktivitas ekonomi itu. Yang lebih krusial adalah apakah aktivitas itu tetap mengabdi pada tujuan utama program: memberi gizi untuk anak sekolah.
Selama piring-piring di sekolah terisi makanan bergizi yang layak dan merata terutama di daerah yang benar-benar membutuhkan maka geliat ekonomi di belakangnya justru bisa jadi berkah. Ia bisa menjadi penggerak pembangunan.
Namun begitu, ada risiko yang mengintai. Bayangkan jika ukuran suksesnya MBG bergeser. Kalau yang dilihat cuma besaran anggaran yang terserap, atau banyaknya fasilitas pendukung yang berdiri, sementara di lapangan perubahan berjalan lambat dan timpang. Jika itu terjadi, MBG berisiko dipandang sekadar sebagai "mesin uang". Sebuah sistem yang hidup untuk dirinya sendiri.
Di titik ini, koreksi sangat diperlukan. Bukan untuk membatalkan program, tapi untuk memastikan "mesin gizi" dan "mesin ekonomi" itu lurus jalannya, tetap mengarah pada pembangunan manusia.
Sebagai mesin gizi, penilaiannya harus lugas. Apakah anak-anak dapat makan yang lebih bergizi dibanding sebelumnya? Indikator utamanya ada di ruang kelas dan kantin sekolah, bukan di pusat data atau laporan keuangan. Gizi yang baik adalah fondasi. Tapi fondasi saja tidak cukup.
Anak yang sehat butuh lingkungan belajar yang layak. Di sinilah MBG harus dilihat sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih luas. Pendidikan yang "bergizi" bukan cuma soal makanan di piring. Ia juga tentang gedung sekolah yang manusiawi, proses belajar yang bermutu, dan yang tak kalah penting: kesejahteraan guru.
Guru adalah ujung tombak. Meningkatkan pendapatan guru negeri, swasta, hingga honorer adalah investasi yang setara pentingnya dengan program gizi. Anggaran pendidikan tidak boleh tergerus oleh MBG. Keduanya harus berjalan beriringan, saling menguatkan.
Artikel Terkait
Garuda Indonesia Gelar Travel Fair, Siapkan 40 Ribu Kursi Promo untuk Umrah dan Haji
Bukan Pesut, Lumba-Lumba Putih yang Muncul di Sungai Asahan
Gadis 11 Tahun Nekat Jalan Kaki 17 Km Sendirian di Malam Hari untuk Temui Nenek
Wali Kota Tangerang Alihkan Belajar ke Daring, Imbas Banjir yang Belum Surut