“Aksi ini merupakan bentuk keseriusan rakyat Luwu. Kami menuntut janji pemekaran Provinsi Luwu Raya segera direalisasikan,”
tegas Karimuddin, Ketua Presidium GPPRL, menyuarakan tuntutan inti para pengunjuk rasa.
Di sisi lain, ketegangan sempat memanas di Jembatan Baliase. Menurut sejumlah saksi, kericuhan pecah saat seorang pengendara motor berusaha nekat menerobos barikade massa. Adu mulut dan saling dorong pun terjadi, sebelum akhirnya bisa diredam oleh warga lainnya. Situasi yang cukup mencemaskan.
Hingga berita ini diturunkan, pasar tradisional dan toko-toko di sepanjang Trans Sulawesi masih banyak yang tutup. Yang lebih parah, distribusi barang dari Makassar menuju Sulawesi Tengah dan Tenggara via darat terpaksa berhenti total. Dampak ekonominya jelas luas.
Menyikapi hal ini, aparat keamanan dari TNI dan Polri sudah disiagakan di berbagai titik rawan. Tugas mereka jelas: mencegah tindakan anarkis sekaligus bernegosiasi agar massa mau membuka akses jalan sedikit demi sedikit. Namun begitu, suasana masih tegang. Nada tuntutan masih keras, dan jalanan masih senyap dari lalu lintas normal.
Artikel Terkait
IHSG Melemah 0,37%, Analis Soroti Potensi Koreksi dan Peluang Penguatan
BSI Gelar Festival Ramadan di Makassar, Tawarkan Diskon Umrah hingga DP 0% Kendaraan
IJTI Peringatkan Perjanjian Dagang RI-AS Ancam Media Nasional
Pembentukan DOB Luwu Raya Tertunda, Tunggu Regulasi dan Keputusan Pusat