Reformasi 1998 memang mengubah segalanya. Suasana politik yang sebelumnya terkungkung tiba-tiba terbuka lebar. Transisi dari Soeharto ke Habibie bukan cuma soal pergantian pemimpin, tapi juga memberi angin segar kebebasan bagi masyarakat untuk benar-benar terlibat dalam politik.
Nah, di tengah euforia itu, bermunculanlah partai-partai politik baru. Mereka diharapkan jadi medium penyalur aspirasi publik, sekaligus penyeimbang bagi elite lama yang masih berkuasa. Harapannya sih sederhana: partai baru ini bisa menjawab kegelisahan riil yang dirasakan orang banyak.
Tapi, harapan seringkali tak seindah kenyataan.
Memang, partai-partai baru itu berusaha tampil beda. Identitas mereka dirancang sedemikian rupa untuk terlihat fresh dan menjanjikan perubahan. Namun begitu, perubahan yang ditawarkan seringkali cuma di permukaan. Cuma simbol belaka. Soal tata kelola partai yang inklusif, integritas, atau kaderisasi yang matang? Itu hal lain lagi. Akibatnya, alih-alih jadi alternatif, banyak dari partai baru ini malah terjebak dalam pola kekuasaan lama yang itu-itu juga.
Fenomena partai baru mekar jelang pemilu sebenarnya sudah jadi pola. Lihat saja sejarah. Pemilu 1999 diramaikan oleh 45 partai baru. Lalu, di Pemilu 2004 yang pertama kali menyelenggarakan pilpres langsung muncul lagi 14 partai. Kebebasan politik ternyata memberi ruang yang lapang. Bahkan di 2009, masih ada 22 partai baru yang ikut meramaikan kontestasi.
Dukungan Pemilih: Tak Semudah yang Dibayangkan
Tapi tren itu pelan-pelan meredup. Dalam 15 tahun terakhir, partai baru yang muncul bisa dihitung jari. Pemilu 2014 cuma diisi 3 partai baru. Lalu 2019 ada 4, dan 2024 bertambah sedikit jadi 6. Penyebabnya beragam. Regulasi sekarang jauh lebih ketat. Syaratnya nggak main-main: harus punya pengurus hingga ke daerah, punya kantor, punya anggota yang memadai. Belum lagi butuh figur karismatik dan tentu saja, modal yang tidak sedikit.
Hasilnya bisa ditebak. Baik di 2019 maupun 2024, tidak satu pun partai baru berhasil melompati ambang batas parlemen. Tembusnya susah. Pemilih Indonesia rupanya masih solid berpegangan pada partai-partai lama yang sudah mapan.
Data menunjukkan, partai seperti PDI-P, Gerindra, dan Golkar masih menjadi pilihan utama, termasuk bagi Generasi Z dan Milenial. Kekuatan mereka tak lepas dari personalisasi figur ketua umumnya yang kuat: Megawati, Prabowo, dan ketahanan Golkar di segala cuaca politik.
Di tengah kondisi itu, partai baru seperti Partai Gema Bangsa dan Partai Gerakan Rakyat yang akan bertarung di 2029 menghadapi tantangan berat. Mereka harus menawarkan sesuatu yang benar-benar berbeda. Kalau cuma jadi "bayangan" partai lama, kecil harapan meraih suara.
Personalisasi Figur: Strategi Cari Untung
Menariknya, kedua partai baru itu justru memilih strategi lama: mengaitkan diri dengan figur populer. Partai Gema Bangsa, misalnya, sudah menyatakan dukungan untuk Prabowo Subianto di Pilpres 2029.
Sedangkan Partai Gerakan Rakyat memihak Anies Baswedan.
Dukungan ini jelas bukan tanpa pamrih. Bagi Gema Bangsa, mendukung Prabowo yang kini menjabat presiden adalah langkah rasional. Mereka berharap dapat "efek ekor jas" (coattail-effect) dari popularitas sang presiden. Apalagi sejak Mahkamah Konstitusi menghapus ambang batas pencalonan presiden, partai kecil pun punya peluang untuk mengusung calon. Ini peluang yang tak ingin mereka sia-siakan.
Di sisi lain, dukungan Partai Gerakan Rakyat kepada Anies Baswedan juga punya logika sendiri. Anies adalah figur yang tetap eksis di luar pemerintahan, dengan basis pemilih yang loyal. Mendekat ke sana adalah cara membangun personalisasi dan popularitas partai dengan cepat.
Jadi, kedua partai ini sebenarnya sedang berupaya membangun citra melalui figur yang sudah punya nama. Keputusan MK itu jelas akan membuat panggung politik 2029 semakin kompetitif.
Namun, sebelum memikirkan itu semua, langkah pertama mereka harus jelas: mengantongi legitimasi hukum dulu. Memenuhi semua syarat administratif dan verifikasi faktual agar bisa sah bertarung di gelanggang 2029. Itu saja tidak mudah. Perjalanan mereka masih panjang.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Kembali Turun, Kini Rp2,809 Juta Per Gram
Mahfud MD: Hukum Jamin Hak Pro dan Kontra soal Prabowo, Tapi Pemakzulan Punya Syarat Berat
Raptors Samai Kedudukan Usai Kalahkan Cavaliers 93-89 di Laga Keempat Playoff NBA
Wakil Bupati Bone Pimpin Upacara Hari Otonomi Daerah, Tekankan Penguatan Pelayanan Publik dan Kemandirian Fiskal