Di tengah kondisi itu, partai baru seperti Partai Gema Bangsa dan Partai Gerakan Rakyat yang akan bertarung di 2029 menghadapi tantangan berat. Mereka harus menawarkan sesuatu yang benar-benar berbeda. Kalau cuma jadi "bayangan" partai lama, kecil harapan meraih suara.
Personalisasi Figur: Strategi Cari Untung
Menariknya, kedua partai baru itu justru memilih strategi lama: mengaitkan diri dengan figur populer. Partai Gema Bangsa, misalnya, sudah menyatakan dukungan untuk Prabowo Subianto di Pilpres 2029.
Sedangkan Partai Gerakan Rakyat memihak Anies Baswedan.
Dukungan ini jelas bukan tanpa pamrih. Bagi Gema Bangsa, mendukung Prabowo yang kini menjabat presiden adalah langkah rasional. Mereka berharap dapat "efek ekor jas" (coattail-effect) dari popularitas sang presiden. Apalagi sejak Mahkamah Konstitusi menghapus ambang batas pencalonan presiden, partai kecil pun punya peluang untuk mengusung calon. Ini peluang yang tak ingin mereka sia-siakan.
Di sisi lain, dukungan Partai Gerakan Rakyat kepada Anies Baswedan juga punya logika sendiri. Anies adalah figur yang tetap eksis di luar pemerintahan, dengan basis pemilih yang loyal. Mendekat ke sana adalah cara membangun personalisasi dan popularitas partai dengan cepat.
Jadi, kedua partai ini sebenarnya sedang berupaya membangun citra melalui figur yang sudah punya nama. Keputusan MK itu jelas akan membuat panggung politik 2029 semakin kompetitif.
Namun, sebelum memikirkan itu semua, langkah pertama mereka harus jelas: mengantongi legitimasi hukum dulu. Memenuhi semua syarat administratif dan verifikasi faktual agar bisa sah bertarung di gelanggang 2029. Itu saja tidak mudah. Perjalanan mereka masih panjang.
Artikel Terkait
DPR Sahkan Hery Susanto Pimpin Ombudsman Periode 2026-2031
37,3 Juta Pekerja Indonesia Terjebak dalam Lembur Panjang demi Sekadar Bertahan
BNN Angkat Bicara Soal Tren Whip Pink yang Disalahgunakan untuk Mabuk
Kobaran Api Hanguskan Kapal di Pelabuhan Muara Baru, Asal Usul Masih Misterius