Gelombang demonstrasi di Iran masih terus berlanjut. Pemicunya? Anjloknya nilai tukar riyal Iran ke titik terendah sepanjang sejarah. Kondisi ini langsung memukul keras kehidupan warga, dengan harga kebutuhan pokok yang melambung dan krisis ekonomi yang kian parah.
Menurut laporan Bloomberg pada Rabu (14/1), riyal terdepresiasi sekitar 40 persen. Dampaknya sungguh nyata: inflasi pangan tahunan meroket hingga 70 persen. Dengan catatan kelam ini, riyal Iran kini bisa dibilang sebagai salah satu mata uang terlemah di dunia.
Lalu, berapa sebenarnya nilai riyal Iran jika dibandingkan dengan Rupiah? Angkanya cukup mencengangkan. Berdasarkan kalkulator kurs Wise, Rp 1 setara dengan 2,49 riyal Iran. Namun, sumber lain seperti XE dan Google menunjukkan angka yang jauh berbeda sekitar 63 hingga 64 riyal Iran untuk setiap Rupiah. Perbedaan yang sangat lebar ini sendiri menggambarkan betapa rumit dan bergejolaknya situasi.
Jatuh Terus Sejak Awal Tahun
Kurs nasional Iran sebenarnya sudah terperosok jauh sejak awal 2024. Euro News memberitakan, nilainya turun sekitar 13 persen dari Januari ke Februari. Tren penurunan ini makin menjadi-jadi pasca konflik Israel-Hamas meletus pada Oktober tahun lalu.
Di sisi lain, pemerintah Iran tampaknya punya pendekatan sendiri. Mereka memilih untuk tidak mengakui nilai tukar yang berlaku di pasar global. Lewat Kementerian Urusan Ekonomi dan Keuangan, pemerintah dengan tegas menyatakan sikapnya.
"Kami tidak mengakui nilai tukar pasar bebas secara resmi."
Yang mereka akui hanyalah nilai tukar yang diatur oleh Iran Center for Exchange. Menurut pemerintah, strategi ini penting untuk menjaga stabilitas riyal di kancah internasional. Klaimnya sih berhasil, tapi realitas di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.
Akibatnya, mata uang asing dengan kurs resmi yang lebih rendah jadi barang langka. Banyak warga akhirnya nekat beralih ke pasar gelap untuk mendapatkan dolar AS sebuah langkah berisiko mengingat pemerintah gencar menindak transaksi yang dianggap tidak sah, termasuk yang dilakukan secara virtual.
Ruang gerak semakin sempit. Kantor-kantor pertukaran uang di Teheran, misalnya, dilarang membagikan informasi kurs kepada publik atau menjual valuta asing. Iran Wire juga melaporkan adanya pembatasan transfer riyal dari rekening bank domestik yang dirasakan warga.
Belum cukup sampai di situ, pemerintah melalui Bank Sentral baru-baru ini menghapus total sistem NIMA pasar sekunder yang sebelumnya jadi jalur bagi eksportir dan importir. Sistem ini dulunya hadir karena pemerintah kesulitan menyediakan mata uang asing.
Dampaknya langsung terasa. Kini, eksportir dipaksa menjual devisa mereka ke Bank Sentral dengan kurs yang lebih rendah ketimbang pasar terbuka. Importir dan eksportir pun harus bernegosiasi sendiri soal nilai tukar, menghapus kemudahan yang sebelumnya ada untuk mendapatkan dolar dengan harga lebih murah.
Abdolnasser Hemmati, Gubernur Bank Sentral yang juga mantan Menteri Ekonomi, membela kebijakan ini. Katanya, langkah ini diambil untuk menjamin keamanan ekonomi negara.
Namun begitu, para kritikus punya pandangan berbeda. Mereka melihat lonjakan nilai dolar di pasar terbuka, diikuti penghapusan sistem NIMA dan anggaran pemerintah yang ekspansif untuk 2025, sebagai resep yang sempurna untuk inflasi tinggi di tahun-tahun mendatang. Situasinya memang suram, dan jalan keluarnya masih samar.
Artikel Terkait
28 Saham Mid-Big Cap Catat PBV di Bawah 1, Sinyal Value Investing?
Direktur MSIN Buka Suara Soal Volatilitas Saham dan Rencana Secondary Listing
MNC Sekuritas Gelar Instagram Live Bahas Potensi dan Risiko Waran Terstruktur
Grup Bakrie Pacu Restrukturisasi Modal Lewat Rights Issue dan Private Placement