Channel pertama menangkap percakapan pilot dengan Air Traffic Control (ATC). Yang kedua, khusus untuk komunikasi antar pilot di kokpit.
"Kalau channel ketiga komunikasi dari kokpit ke kabin, sedangkan, untuk channel keempat merekam seluruh suara yang ada di dalam kokpit,” jelas Soerjanto.
Bayangkan saja, semua obrolan pilot sampai bunyi alarm atau derit sekalipun, terekam di sana. Itu bakal jadi bahan penyelidikan yang sangat berharga. Sementara FDR-nya tak kalah penting. Perangkat ini menyimpan puluhan parameter data penerbangan mulai dari ketinggian, kecepatan, hingga kondisi mesin.
“Semua data ini akan membantu kami mengetahui secara akurat apa yang terjadi pada pesawat sebelum kecelakaan,” tegasnya.
Soerjanto menegaskan, inti dari semua kerja investigasi ini bukan mencari siapa yang salah. Tujuannya lebih ke depan: mendapatkan pembelajaran agar tragedi serupa bisa dicegah.
“Hasil investigasi KNKT nantinya berupa laporan lengkap dan rekomendasi keselamatan. Jika dalam prosesnya kami memandang perlu adanya rekomendasi segera, maka KNKT akan mengeluarkan rekomendasi tanpa menunggu laporan akhir,” tandasnya.
Jadi, proses panjang kini dimulai. Kotak hitam itu membawa cerita terakhir pesawat, dan tugas KNKT adalah mendengarkannya.
Artikel Terkait
Kelme Luncurkan Jersey Timnas Indonesia dengan Teknologi Jacquard dan Emblem Silikon 3D
IHSG Melemah 0,37%, Analis Soroti Potensi Koreksi dan Peluang Penguatan
BSI Gelar Festival Ramadan di Makassar, Tawarkan Diskon Umrah hingga DP 0% Kendaraan
IJTI Peringatkan Perjanjian Dagang RI-AS Ancam Media Nasional