Jakarta kembali tergenang. Banjir yang melanda beberapa hari terakhir ini, menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, punya akar masalah yang lebih dalam dari sekadar hujan deras. Ya, curah hujan di akhir Januari memang tinggi, tapi itu bukan satu-satunya biang kerok.
Prasetyo menegaskan, perubahan tata ruang ikut berperan besar. "Kita tentu menyadari bahwa ini tidak sekadar faktor cuaca," ujarnya kepada para wartawan, Kamis (22/1).
Menurutnya, pendangkalan di daerah aliran sungai turut memperparah keadaan. Persoalannya jadi kompleks.
Dia lalu membuka memori masa lalu. Di era 1970-an, kawasan Jabodetabek punya lebih dari seribu setu atau danau kecil. Tempat-tempat itulah yang dulu berjasa menyerap air hujan, mencegahnya langsung meluap ke pemukiman.
"Nah, menurut data terakhir, hari ini kurang lebih hanya tinggal tersisa 200 setu," ungkap Prasetyo. Angkanya menyusut drastis. Bayangkan, reservoir alami yang hilang itu jumlahnya ratusan. Dampaknya jelas terasa saat musim hujan tiba.
Merespon hal ini, Presiden Prabowo Subianto punya perhatian khusus. Prasetyo menyebut, Prabowo menginginkan penyelesaian yang komprehensif, dari hulu sampai hilir. Bukan sekadar menanggulangi saat banjir sudah terjadi.
Untuk itu, dibentuklah tim teknis. Tim ini akan diisi oleh perwakilan dari berbagai kementerian, seperti Kemenko Infrastruktur, PU, ATR/BPN, hingga Kehutanan dan Pertanian.
"Karena ini lintas provinsi," jelas Prasetyo, menekankan perlunya koordinasi yang solid. Tujuannya satu: menganalisa dan mencari solusi permanen agar masalah banjir ini bisa dituntaskan secara menyeluruh.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu