Dari Ayat ke Realitas Ketika Amanah Terkalahkan oleh Kekuasaan
Peringatan dalam Al-Qur’an itu lembut, tapi daya guncangnya panjang. Ia bicara tentang kita, manusia, yang seringkali berhadapan dengan kebenaran namun ogah-ogahan memahaminya. Atau, punya suara tapi memilih diam saat kejujuran butuh keberanian untuk disampaikan.
Kondisi itu digambarkan dengan gamblang dalam Surat Yūnus ayat 42 dan Al-Baqarah ayat 18. Istilah "tuli, bisu, dan buta" di sana jelas-jelas bermakna moral, bukan fisik. Ini soal pilihan batin, bukan keterbatasan indera. Maukah kita menjadikan kebenaran sebagai cermin, atau justru menolaknya karena dianggap mengganggu zona nyaman?
Nah, peringatan itu terasa sangat relevan saat menyaksikan kekuasaan berhadapan dengan kritik. Sejarah umat masa lalu menunjukkan pola yang terus berulang. Lihatlah Fir‘aun. Ia tumbang bukan karena kurang pasukan atau kekuatan, melainkan karena keras kepala menutup diri dari setiap peringatan. Kaum Ashābul-Sabt tergelincir bukan karena tak tahu aturan, tapi karena sibuk menyiasati amanah agar terlihat sah di mata. Kaum munafik pun runtuh, bukan karena miskin kata-kata, tapi karena kata-kata mereka kosong dari tanggung jawab. Polanya konsisten: saat koreksi dianggap sebagai gangguan, di situlah amanah mulai kehilangan pijakannya.
Program Mulia dan Risiko yang Mengiringi
Niat baik dan harapan besar memang sering melahirkan program sosial. Namun begitu, niat baik tak selalu berbanding lurus dengan hasil di lapangan. Dalam urusan publik, keberhasilan menuntut tiga hal: desain kebijakan yang cermat, eksekusi yang konsisten, dan pengawasan yang ketat. Kalau salah satunya melemah, risikonya langsung muncul terutama untuk program berskala besar.
Risiko itu terasa paling perih ketika korbannya adalah anak-anak. Dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) misalnya, berbagai laporan dan pemberitaan mengungkap persoalan yang memprihatinkan. Ada anak-anak yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan. Makanan basi, tidak higienis, bahkan tak layak konsumsi sempat ditemukan. Fakta-fakta ini, berapa pun skalanya, harus ditanggapi dengan serius. Anak-anak datang ke sekolah untuk belajar dan bertumbuh, bukan untuk menanggung risiko akibat kelalaian orang dewasa.
Di Balik Masalah Teknis: Persoalan Sikap
Tapi, di balik semua persoalan teknis itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar dan menggelisahkan: bagaimana sebenarnya sikap moral para pihak yang terlibat?
Di tingkat penyedia, misalnya. Sangat memprihatinkan jika ada yang tahu bahan itu tak layak, tapi tetap disajikan. Kalau benar terjadi, persoalannya sudah melompat dari sekadar prosedur teknis. Ini sudah masuk wilayah empati dan tanggung jawab kemanusiaan. Begitu keselamatan anak-anak bukan lagi pertimbangan utama, kita sedang berhadapan dengan krisis nurani yang nyata.
Di sisi lain, di tingkat pengelola kebijakan, persoalannya lain lagi. Informasi tentang masalah di lapangan sudah beredar. Yang diharapkan publik tentu respons yang lugas: evaluasi menyeluruh, perbaikan sistem, penegasan standar. Namun yang kerap terlihat? Justru penjelasan yang defensif, pengalihan isu, atau dramatisasi emosi. Kritik dianggap sebagai ancaman, bukan masukan berharga. Sikap seperti ini mungkin bisa dimengerti secara manusiawi, tapi sangat berisiko secara moral jika dibiarkan berlarut-larut.
Dua posisi yang berbeda penyedia di lapangan dan pengelola di puncak pada akhirnya bertemu di satu titik yang sama: melemahnya moral responsibilitas. Kesalahan diketahui, tapi tetap dilakukan. Masalah terlihat, tapi tak segera dikoreksi. Sudah ada korban, tapi empati justru dikalahkan oleh kepentingan menjaga citra. Inilah gejalanya ketika amanah tidak lagi dipikul sebagai beban etis, melainkan dikelola sekadar sebagai risiko administratif belaka.
Ketika Angka Menutupi Makna
Semuanya jadi makin rumit ketika sebuah tragedi cuma dibaca lewat angka-angka. Perbandingan persentase berapa yang terdampak dan berapa yang tidak sering dijadikan alat untuk menenangkan situasi. Pendekatan ini mungkin berguna untuk laporan administratif, tapi jelas tidak memadai secara etis. Dalam urusan keselamatan manusia, satu korban pun punya makna yang sangat besar. Angka takkan pernah bisa mewakili sepenuhnya rasa sakit, kecemasan, dan trauma jangka panjang yang harus ditanggung sebuah keluarga.
Parahnya, energi yang dihabiskan untuk membalas kritik kerap lebih besar daripada energi untuk membenahi akar masalah. Padahal, fungsi kritik itu sendiri seharusnya menjadi bagian dari mekanisme koreksi, agar kesalahan yang sama tidak terulang di masa depan.
Mengapa Koreksi Sulit Diterima (dan Ancaman yang Mengintai)
Memang, koreksi seringkali sulit diterima saat kekuasaan berada dalam posisi defensif. Loyalitas buta, kekhawatiran akan kehilangan jabatan, atau tekanan politik bisa membuat seseorang memilih jalan yang aman bagi dirinya sendiri, meski berisiko besar bagi banyak orang. Dalam situasi seperti ini, kepekaan terhadap penderitaan orang lain lambat laun terkikis, digantikan oleh rutinitas pembelaan diri yang kering.
Al-Qur’an memberi peringatan yang jauh lebih serius dari sekadar penilaian moral biasa. Ketika sebuah proses dijalankan tanpa moral responsibilitas ketika kesalahan dilakukan dengan sadar, dibiarkan berulang, bahkan dibenarkan lalu mengakibatkan penderitaan, terlebih pada anak-anak, maka itu disebut sebagai kezaliman yang mengundang azab nyata.
Azab itu tak selalu hadir sebagai bencana besar yang datang tiba-tiba. Seringkali ia muncul dalam bentuk yang kasatmata dan berlapis: sistem yang rusak, hilangnya keberkahan, hati yang mengeras, kepercayaan publik yang runtuh, serta lahirnya keputusan-keputusan keliru yang terus berulang. Inilah azab yang bekerja di dunia, sebagai peringatan agar kita kembali ke jalan yang benar, sebelum pertanggungjawaban yang lebih berat datang menanti.
Barangkali inilah persoalan paling sunyi sekaligus paling menentukan: saat kesalahan tak lagi melahirkan rasa bersalah, dan kekuasaan tak lagi merasa perlu berhenti sejenak untuk mendengar. Pada fase ini, yang salah terasa biasa saja. Yang mengingatkan dianggap mengganggu. Dan korban perlahan menghilang dari percakapan bukan karena mereka tidak ada, tapi karena suara mereka kalah oleh kebisingan pembelaan diri yang tak ada habisnya.
Menjaga Amanah, Menjaga Masa Depan
Refleksi ini bukan ajakan untuk saling menyalahkan. Ini lebih pada undangan untuk kembali ke inti dari amanah itu sendiri. Keselamatan manusia terutama anak-anak harus ditempatkan di atas segalanya, jauh melebihi kepentingan citra atau gengsi sebuah program.
Pengawasan yang kuat, standar yang jelas, penegakan yang adil, serta ruang bagi kritik yang aman; itulah prasyarat mutlak agar niat baik benar-benar berbuah menjadi kebaikan yang nyata.
Sebuah bangsa tidak akan melemah karena dikritik. Justru ia akan melemah ketika kritik itu tak lagi didengar. Kekuasaan juga tidak akan kehilangan wibawa karena mengakui kekurangannya. Sebaliknya, kepercayaan justru tumbuh dari keberanian untuk memperbaiki kesalahan.
Jika moral responsibilitas terus dikesampingkan, dan setiap koreksi diperlakukan layaknya ancaman, maka azab itu tidak lagi sekadar peringatan di dalam kitab suci. Ia akan menjadi kenyataan sosial pahit yang terpaksa kita saksikan dan alami bersama.
Artikel Terkait
Unhas Kukuhkan Kembali Prof. Jamaluddin Jompa sebagai Rektor Periode 2026-2030
Riset 150 Tahun Ungkap Generasi Z dan Milenial Lebih Bodoh dari Pendahulunya, Ilmuwan Sebut Malapetaka Kognitif
Gubernur Kaltim Rudy Masud Minta Maaf soal Renovasi Rumah Dinas Rp25 Miliar, Janji Biayai Sendiri Item Non-Kedinasan
Harga Emas Antam Kembali Turun, Kini Rp2,809 Juta Per Gram