Keputusan Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau yang lebih dikenal sebagai Noe Letto, untuk mengisi posisi Tenaga Ahli di Kementerian Pertahanan dan Dewan Pertahanan Nasional sempat menimbulkan tanda tanya. Banyak yang bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dilakukan vokalis Letto itu di sana? Lewat sebuah video di kanal YouTube-nya, Rabu lalu, Noe akhirnya angkat bicara.
Ia punya penjelasan yang cukup menarik. Menurutnya, posisi tenaga ahli itu bukan untuk membuat aturan. Tugasnya lebih ke arah memberi masukan kepada pemerintah terkait situasi, risiko, dan tentu saja, rekomendasi.
Nah, soal kritik bahwa ia kini ‘masuk sistem’, Noe punya pembedaan. Ia membedakan antara pemerintah, negara, dan bangsa. Intinya, ia menyatakan tetap berada di luar sistem pemerintahan yang sifatnya politis. Posisinya, klaimnya, adalah di sisi negara, sehingga ia bisa memberi input dari sudut pandang rakyat.
Lalu bagaimana dengan independensinya? Noe menjawab kekhawatiran ini dengan menyebut bahwa sepanjang tahun lalu, ia tetap kritis pada pemerintah sambil diam-diam juga memberi masukan ke beberapa kementerian, termasuk Kemhan. Jadi, ini bukan soal cari kerja.
Pertanyaan lain yang mungkin muncul adalah soal kompetensi. Apa hubungannya musisi dengan pertahanan? Noe menjelaskan, fokusnya bukan pada perang konvensional. Ia justru tertarik pada ancaman modern yang disebut perang kognitif jenis perang yang menghancurkan negara lewat perpecahan dan hilangnya kepercayaan.
Artikel Terkait
Anwar Usman Buka Suara Soal Polemik Raja Bolos di MK
Takziah Berujung Ricuh: Wanita Diamankan Usai Curi Uang Sumbangan Duka
Jakarta Kebanjiran Lagi, 17 Ruas Jalan dan 12 RT Terendam
LP3I Depok Gelar Workshop, Bantu Guru Rakit Portofolio Digital