Ketegangan di Timur Tengah kian memanas. Setelah ancaman keras dari Presiden AS Donald Trump, giliran Iran yang membalas dengan kata-kata tak kalah sengit. Kali ini, lewat pesan daring, Kepala Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, secara terbuka memperingatkan Trump untuk "berhati-hati" agar tidak justru "tereliminasi" alias mati.
Ancaman balasan ini muncul sebagai reaksi atas pernyataan Trump yang mengancam akan menyerang Iran "dua puluh kali lebih keras" jika Teheran berani memblokade aliran minyak melalui Selat Hormuz. Laporan dari Al Jazeera, Selasa (10/3/2026), menangkap eskalasi verbal yang mencemaskan ini.
"Bangsa Iran yang berkorban tidak takut dengan ancaman kosong Anda. Bahkan mereka yang lebih besar dari Anda pun tidak dapat melenyapkan Iran. Hati-hati jangan sampai Anda sendiri yang dilenyapkan,"
Begitu bunyi pesan Larijani yang terang-terangan. Ancaman ini punya bobot sejarah. Iran sendiri pernah dituduh merencanakan upaya pembunuhan terhadap Trump di masa lalu, meski Teheran selalu membantahnya.
Namun begitu, kata-kata keras itu hanya satu sisi dari koin. Di lapangan, Iran sudah bergerak lebih jauh. Sepanjang hari Selasa, mereka terus melancarkan serangan balasan, bukan cuma ke Israel, tapi juga ke negara-negara Arab di kawasan Teluk. Serangan-serangan ini, yang memakai rudal dan drone, jelas bertujuan menekan habis-habisan.
Targetnya strategis: infrastruktur energi dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz jalur air paling vital untuk perdagangan minyak global. Dampaknya langsung terasa. Harga minyak mentah Brent, standar internasional, sempat melonjak liar mendekati angka 120 dolar AS per barel. Meski kemudian turun, harganya masih bertengger di sekitar 90 dolar, atau naik hampir seperempat sejak perang dimulai akhir Februari lalu.
Serangan Iran ini, menurut sejumlah analis, punya tujuan ganda. Selain membalas, mereka ingin menimbulkan guncangan ekonomi global yang cukup besar untuk memaksa AS dan Israel menghentikan ofensif mereka. Tampaknya, Teheran sedang bermain dengan risiko tinggi.
Di sisi lain, pernyataan Trump yang berusaha meredam kekhawatiran justru ditanggapi dengan cemoohan oleh para petinggi Iran. Trump sebelumnya menyebut perang ini akan menjadi "serangan jangka pendek" dan akan berakhir "segera".
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan tegas mematahkan klaim itu. Dia menegaskan negaranya siap bertempur selama apa pun yang diperlukan. Pernyataan ini bukan sekadar gertak. Tak lama setelah Trump bicara, Iran malah meluncurkan gelombang serangan baru ke sekutu-sekutu AS di Teluk. Fakta di lapangan ini seolah menunjukkan bahwa narasi pengendalian situasi dari Washington jauh dari kenyataan.
Kini, situasinya terasa seperti lingkaran setan. Ancaman dibalas ancaman, serangan dijawab dengan serangan. Dan di tengah semua itu, pasar minyak dunia terus bergoyang, menahan napas menunggu perkembangan berikutnya yang mungkin lebih panas lagi.
Artikel Terkait
Polisi Tetapkan Syekh Ahmad Al Misry Tersangka Dugaan Pelecehan Santri, Sahroni Minta Hukuman Berat
Jakarta Barat Kumpulkan 217 Kg Ikan Sapu-sapu, Transjakarta Rp1 Diserbu Warga
Hari Malaria Sedunia 2026: WHO Luncurkan Kampanye Akhiri Malaria, Seruan Pendanaan dan Inovasi Diperkuat
Gencatan Senjata Israel-Lebanon Diperpanjang Tiga Pekan, Pengamat Nilai Rapuh Jika AS dan Iran Turun Tangan