JAKARTA – Bursa saham Indonesia benar-benar babak belur hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 3,06 persen ke posisi 7.152,85 saat penutupan sesi pertama, Jumat (24/4). Lebih parahnya lagi, ini sudah hari kelima berturut-turut indeks terkoreksi. Lumayan panjang pekan ini buat para investor.
Tekanan jual datang dari mana-mana, tapi yang paling keras adalah saham-saham konglomerat dan perbankan besar. Big cap jadi bulan-bulanan. Sampai siang tadi, nilai transaksi di bursa tercatat Rp13,22 triliun dengan volume 27,14 miliar saham. Dominasi merah sangat terasa 670 saham turun, hanya 101 yang hijau, sisanya 188 saham diam di tempat.
Dari kubu konglomerat, Grup Barito milik Prajogo Pangestu paling kena imbas. Saham BREN misalnya, jatuh 4,26 persen ke Rp4.720. BRPT juga ikut-ikutan, melemah 5,48 persen ke Rp2.070. Lalu TPIA turun 1,63 persen ke Rp6.050. CUAN ambles 5 persen ke Rp1.330. Yang paling parah? CDIA anjlok 9,91 persen ke Rp1.000. PTRO juga ikut terperosok 8,10 persen. Lumayan serem.
Dari Grup Sinarmas, nasib DSSA juga nggak jauh beda. Merosot 9,78 persen ke Rp2.030. Sementara dari afiliasi Salim Group, AMMN turun 6,79 persen ke Rp4.870, dan PANI melemah 4,70 persen ke Rp8.625. Bakrie Group? BRMS juga ikut terkoreksi 3,47 persen ke Rp835. Semua merah, semua tertekan.
Nah, dari sektor perbankan, tekanan juga nggak main-main. BBCA turun 5,45 persen ke Rp6.075. BBNI merosot 3,36 persen ke Rp3.740. BBRI ikut-ikutan, turun 2,53 persen ke Rp3.080. BMRI juga terkoreksi 2,16 persen ke Rp4.530. Saham-saham besar lainnya macam TLKM turun 3,47 persen ke Rp2.780, dan UNTR melemah 2,31 persen ke Rp31.750. Pokoknya kompak merah semua.
Di sisi lain, rupiah juga lagi nggak baik-baik saja. Malah bisa dibilang, ini salah satu biang kerok utama yang bikin IHSG lesu. Nilai tukar rupiah memang menguat tipis ke Rp17.290 per dolar AS hari ini. Tapi sebelumnya, Kamis (23/4), sempat menyentuh rekor terendah sepanjang masa di kisaran Rp17.330. Ngeri juga.
Sentimen pasar masih rapuh banget. Menurut data Trading Economics, penguatan dolar AS didorong permintaan aset aman. Apalagi di tengah mandeknya upaya perdamaian AS-Iran. Mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, jadi korban.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Rabu (22/4) memilih menahan suku bunga acuan di 4,75 persen. Ini sudah tujuh kali berturut-turut nggak berubah. Gubernur BI Perry Warjiyo bilang, bank sentral tetap komitmen memperkuat stabilitas rupiah lewat intervensi di pasar domestik dan global.
Perry juga menilai rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya. Ia menambahkan, cadangan devisa Indonesia yang sekitar USD148 miliar per Maret cukup kuat buat meredam gejolak dari luar. Tapi tekanan belum sepenuhnya reda. Sepanjang bulan ini, rupiah berkali-kali catat level terendah baru, dan berpotensi melemah untuk minggu keempat berturut-turut.
Meski begitu, data bank sentral menunjukkan ada aliran masuk modal asing secara terbatas ke pasar obligasi pemerintah di awal kuartal II. Pelaku pasar sekarang lagi nunggu rilis data investasi langsung asing (FDI) kuartal I pekan depan.
Beralih ke kabar dari Fitch. Lembaga pemeringkat ini menilai Indonesia masih punya ruang buat melanggar batas defisit fiskal 3 persen dari PDB, asalkan sifatnya sementara dan dipicu gangguan ekonomi akibat konflik Timur Tengah. Direktur sovereign ratings Fitch, George Xu, bilang, kuncinya ada di komunikasi pemerintah ke pasar dan komitmen terhadap konsolidasi fiskal ke depan.
Ia menegaskan, kalau arah kebijakan tetap kredibel, pelanggaran sementara nggak otomatis berdampak negatif pada peringkat. Tapi Fitch juga ngasih peringatan: risiko bakal meningkat kalau defisit tinggi berlangsung lama. Dalam skenario itu, fundamental kredit bisa melemah, apalagi kalau rasio utang terus naik. Potensi penurunan peringkat jadi mengintai.
Sebelumnya, Fitch sudah menurunkan outlook peringkat Indonesia jadi negatif dari stabil. Ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian dan menurunnya kredibilitas kebijakan. Penilaian itu bahkan belum termasuk dampak konflik Iran yang bisa memperbesar tekanan fiskal, terutama dari lonjakan subsidi energi di tengah komitmen pemerintah menahan harga BBM.
Di sisi lain, pembuat kebijakan mulai buka peluang defisit yang lebih lebar akibat perang. Skenario dasar defisit 2026 saat ini di kisaran 2,9 persen dari PDB, sedikit di bawah batas 3 persen. Tapi lebih tinggi dari estimasi sebelumnya yang cuma 2,7 persen. Bahkan, diskusi internal sempat mengarah ke potensi defisit sampai 4 persen. Namun pemerintah tetap berkomitmen jaga defisit di bawah ambang batas buat meredam kekhawatiran investor.
Bagi Fitch, pelonggaran satu tahun masih bisa ditoleransi, asal nggak jadi tren berkepanjangan. Lebih lanjut, Fitch juga soroti risiko pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter yang terlalu agresif demi mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Minimnya reformasi struktural dinilai bisa dorong pemerintah ambil langkah ekspansif yang berisiko terhadap stabilitas jangka panjang.
Selain itu, lembaga ini bakal mencermati potensi penggunaan dana investasi negara Danantara buat mendanai belanja publik di luar mekanisme anggaran. Ini dinilai bisa jadi cara mengakali batas defisit. Dari sisi moneter, perluasan mandat BI juga jadi perhatian. Rencana penambahan tugas buat dukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja dinilai berpotensi mengaburkan fokus utama bank sentral dalam jaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Fitch menilai, kompleksitas mandat itu meningkatkan risiko kesalahan kebijakan, terutama di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi terhadap perekonomian Indonesia.
Sementara itu, investor asing terus lego saham. Sepanjang pekan ini, net foreign sell di pasar reguler mencapai Rp1,89 triliun. Ini jelas nahan ruang penguatan IHSG. Menurut catatan BRI Danareksa Sekuritas, Jumat (24/4), tekanan utama berasal dari saham perbankan besar macam BBRI, BBCA, dan BMRI. Pelemahan di saham-saham itu jadi faktor dominan yang batasi laju IHSG.
Tapi investor asing nggak sepenuhnya keluar dari pasar. Mereka masih melakukan akumulasi secara selektif, terutama di saham-saham berbasis komoditas seperti EMAS, MEDC, INCO, dan UNTR. Pergerakan ini mencerminkan rotasi dana ke sektor yang dinilai punya prospek lebih menarik, khususnya di tengah dinamika harga komoditas global.
Partisipasi investor asing tercatat di kisaran 32 persen dari total nilai transaksi. Sementara itu, investor domestik tetap jadi penopang utama pergerakan pasar saham Indonesia dalam sepekan terakhir.
(Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Hua Yan dan Andalan Sakti Inti Batal Negosiasi Akuisisi 51,18% Saham Ansa Land
Grup Astra Kuasai 91,44% Saham Mega Manunggal Property, Fokus Tingkatkan Okupansi Gudang
IHSG Anjlok 3,06 Persen ke Level 7.152, Seluruh Sektor Saham Tertekan
Saham LPPF dan ASGR Anjlok ke ARB Usai Ex Dividen, Terjebak Fenomena Dividend Trap