PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA) resmi mengakuisisi sepuluh persen saham pada dua perusahaan konsorsium milik Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd. Langkah korporasi ini ditempuh melalui anak usahanya, PT Ananta Energi Asia (AEA), sebagai bagian dari strategi ekspansi ke sektor pengelolaan sampah berbasis energi.
Akuisisi tersebut memungkinkan SOFA untuk turut serta dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy. Dua konsorsium yang dimaksud telah ditunjuk untuk mengembangkan dan mengoperasikan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di dua kawasan strategis, yakni Denpasar Raya, Bali, dan Bogor Raya, Jawa Barat. Informasi ini disampaikan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 9 Juni 2026.
Sebelumnya, pada akhir Mei 2026, perseroan telah mengumumkan keterlibatan AEA dalam konsorsium yang dipimpin oleh Zhejiang Weiming. AEA sendiri merupakan perusahaan yang baru dibentuk pada 5 Februari 2026 oleh SOFA bersama PT Asia Investment Capital (AIC), yang bertindak sebagai pemegang saham pengendali. Dalam struktur kepemilikan saat ini, SOFA menguasai 99 persen saham AEA, sementara satu persen sisanya dimiliki oleh AIC.
Di sisi lain, Zhejiang Weiming dikenal luas sebagai salah satu operator dan pengembang fasilitas waste-to-energy terbesar serta paling berpengalaman di dunia. Perusahaan asal China itu memiliki portofolio puluhan proyek yang telah beroperasi di berbagai wilayah di negaranya.
Sepanjang tahun 2025, Zhejiang Weiming mencatat produksi listrik dari fasilitas pengolahan sampah yang dikelolanya mencapai 4,62 miliar kilowatt hour (kWh). Volume tersebut setara dengan kebutuhan konsumsi listrik tahunan sebuah provinsi berukuran menengah di Indonesia.
Artikel Terkait
Pabrik Amonia Banggai Kembali Beroperasi Penuh Usai Pemeliharaan Terjadwal
BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50 Persen dan Beri Insentif Baru untuk Tarik Arus Modal Asing
Jababeka Bagikan Dividen Rp42,31 Miliar, Setara Rp2 per Saham
Pendapatan Non-Tambang PT Dian Swastatika Sentosa Naik Jadi 7,6 Persen, Didorong Bisnis Digital dan Teknologi