Kehamilan yang tiba-tiba dinyatakan positif, tetapi kemudian janinnya tidak ditemukan, kerap dikaitkan dengan mitos bahwa janin tersebut diambil oleh jin. Namun, dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr. Indra Tarigan, Sp.OG, menegaskan bahwa kondisi ini sebenarnya memiliki penjelasan medis yang ilmiah.
Menurut dr. Indra, mitos tersebut muncul akibat kesalahpahaman dalam memahami kondisi kehamilan. "Hamil yang hilang diambil jin itu tidak ada. Ada alasan kuat kenapa saya bisa mengatakan itu," ujarnya kepada kumparanMOM, Rabu (29/7).
Kehamilan Kosong dan Kehamilan Palsu
Salah satu kondisi yang sering disalahartikan sebagai janin hilang adalah kehamilan kosong atau blighted ovum. Pada kondisi ini, kantung kehamilan terbentuk di dalam rahim, tetapi embrio tidak berkembang. Akibatnya, tes kehamilan tetap menunjukkan hasil positif, tetapi pemeriksaan USG tidak menemukan janin yang berkembang.
"Misalnya begini, seorang ibu datang, dikatakan hamil tetapi hamilnya, 'Bu, ini kantongnya ada tetapi bayinya enggak ada, hamilnya kosong.' Ini merupakan suatu kondisi medis yang disebut blighted ovum atau hamil tidak berkembang," jelas dr. Indra.
Selain itu, kehamilan palsu atau pseudocyesis juga bisa menjadi penyebab. Pada kondisi ini, perubahan hormon membuat tubuh menunjukkan tanda-tanda kehamilan, seperti perut membesar, tidak menstruasi, hingga sensasi gerakan janin. "Orang yang mengalami kehamilan palsu bisa mengalami perubahan hormon yang membuat tubuhnya persis seperti hamil. Perutnya membesar, ada rasa seperti anak bergerak-gerak di dalam, tidak datang bulan, bahkan tes kehamilan kadang bisa positif," kata dr. Indra. Namun, kondisi ini bersifat sementara dan perut akan kembali mengecil setelah beberapa bulan, kadang disertai perdarahan.
Mitos yang Tidak Bisa Dibuktikan
dr. Indra menambahkan, di negara maju seperti Amerika, Jerman, Inggris, hingga Arab Saudi, istilah hamil hilang diambil jin tidak pernah dikenal. "Karena memang tidak ada! Ini hanya kepercayaan turun-menurun sebagai mitos dan tidak bisa dibuktikan secara ilmiah," ujarnya.
Oleh karena itu, para ibu disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika mengalami masalah selama kehamilan. Dengan begitu, kondisi yang terjadi dapat dipahami berdasarkan penjelasan medis yang tepat, bukan sekadar mitos yang beredar di masyarakat.