Menari di Puncak Bambu 12 Meter, Tradisi Pojhien Bondowoso Tetap Lestari

- Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:40 WIB
Menari di Puncak Bambu 12 Meter, Tradisi Pojhien Bondowoso Tetap Lestari

Ratusan warga Desa Karanganyar, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, kembali menggelar ritual adat tahunan Pojhien. Tradisi warisan leluhur yang telah bertahan lebih dari satu abad ini menampilkan atraksi mendebarkan: dua penari menari di atas puncak bambu setinggi 12 meter tanpa alat pengaman apa pun.

Ritual yang diyakini telah berlangsung sejak sekitar tahun 1920 ini terus dipelihara sebagai identitas budaya masyarakat setempat. Atraksi dimulai saat dua penari berjalan menuju dua batang bambu yang telah ditancapkan di area ritual. Dengan lincah, mereka memanjat hingga ke ujung bambu, lalu melakukan gerakan tarian khas dengan hanya mengandalkan bagian perut sebagai tumpuan tubuh.

Meski terbilang ekstrem dan berisiko tinggi, para penari diyakini tidak akan terjatuh selama seluruh rangkaian ritual dijalankan sesuai pakem leluhur. Berbagai kelengkapan ubarampe wajib disiapkan, mulai dari beras kuning, perlengkapan rokat, hingga hidangan kue serabi berwarna-warni sebagai syarat keselamatan.

"Pojhien ini diselenggarakan sejak dahulu sebagai bentuk rasa syukur, permohonan keselamatan, keberkahan, serta kemakmuran masyarakat. Ritual ini juga difungsikan sebagai penolak bala penyakit hingga permohonan hujan saat kemarau," ujar Tokoh Adat Desa Karanganyar, Tolak, Minggu (2/8/2026).

Dicanangkan Jadi Desa Budaya

Melihat kuatnya komitmen warga dalam menjaga tradisi lisan dan seni pertunjukan ini, Pemerintah Kabupaten Bondowoso secara resmi mencanangkan Desa Karanganyar sebagai Desa Budaya. Kecamatan Klabang dinilai menjadi salah satu kawasan yang hingga kini paling konsisten melestarikan kekayaan budaya serta kesenian tradisional di Kabupaten Bondowoso.

Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, mengapresiasi masyarakat setempat yang berhasil mempertahankan warisan budaya berusia ratusan tahun tersebut agar tetap eksis dan bernilai pariwisata tinggi.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags