IDXChannel – PT Bahtera Bumi Raya Tbk (PGJO) akhirnya melepas mayoritas saham anak usahanya, PT Pigijo Travelindo Sakti (PTS). Langkah ini cukup mengejutkan, mengingat selama ini PGJO identik dengan bisnis travel digital. Tapi ya, namanya juga dinamika bisnis.
Aksi korporasi ini pada dasarnya untuk keluar dari sektor travel. Manajemen ingin fokus ke logistik dan tambang. Dua sektor yang lagi panas belakangan ini.
Nah, transaksi divestasi ini terjadi antara PGJO dengan dua pembeli: Steffen dan Hevy Yafanny. PGJO melepas 19.999 saham, atau setara 99,995 persen kepemilikan di PTS. Angkanya lumayan, Rp139,99 juta, berdasarkan keterbukaan informasi Kamis (23/4/2026).
Menurut manajemen, transaksi ini tidak masuk kategori transaksi material. Alasannya? Nilainya tidak sampai 10 persen dari total aset perseroan, merujuk laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025. Di sisi lain, kondisi permodalan yang defisit juga ikut jadi pertimbangan. Jadi wajar saja kalau mereka bilang ini bukan perkara besar.
PTS sendiri didirikan pada 21 Februari 2022. Dulu, tujuannya jelas: mendukung pengembangan PGJO di sektor pariwisata. Maklum, PGJO dikenal sebagai perusahaan teknologi, terutama lewat aplikasi Pigijo, si travel marketplace digital.
Namun begitu, sejak ada pengendali baru, arah bisnis mulai bergeser. PGJO berencana bertransformasi jadi perusahaan induk holding company yang fokus investasi di logistik dan pertambangan. Bukan sekadar wacana, mereka sudah mulai bergerak.
Pada Oktober 2025, perseroan mendirikan PT Samudera Sejahtera Shipping dan PT Mega Mitra Marine. Dua entitas ini bergerak di sektor logistik dan pelayaran. Lalu, 8 Desember 2025, giliran PT Niaga Batu Raya dan PT Niaga Nikel Raya lahir untuk memperkuat ekspansi tambang.
Jadi, kalau dilihat dari jejaknya, langkah ini sudah direncanakan matang. Bukan sekadar reaksi pasar. Tapi ya, kita lihat saja bagaimana kelanjutannya. Bisnis tambang dan logistik memang menjanjikan, tapi risikonya juga nggak kecil.
(DESI ANGRIANI)
Artikel Terkait
Harga Emas Ambrol ke Titik Terendah Sepekan, Tertekan Kekhawatiran Suku Bunga Tinggi Akibat Konflik Timur Tengah
IHSG Diprediksi Masih Tertekan, Berpotensi Uji Level 7.245–7.354
Reformasi Pasar Modal Indonesia Dinilai Bukan Sekadar Ikuti Tren, tapi Kebutuhan Struktural
Pertamina Geothermal Energi Bagikan Dividen Rp2,14 Triliun untuk Tahun Buku 2025