Isu tentang sertifikasi halal produk Amerika yang masuk Indonesia sempat ramai diperbincangkan. Menanggapi hal itu, Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan justru memberikan penilaian yang mengejutkan. Menurutnya, proses sertifikasi halal di Amerika Serikat tak hanya setara, tapi dalam beberapa hal bahkan lebih ketat dibanding standar kita di dalam negeri.
Pernyataan ini sekaligus menepis keraguan soal kerja sama resiprokal antara kedua negara. Haikal menegaskan, produk dari AS tidak serta-merta tanpa jaminan kehalalan.
"Tapi kalau prosesnya minimal sama. Kalau tidak sama, mereka lebih ketat. Apalagi soal mazhab, lebih ketat lagi," ujar Haikal dalam sebuah media gathering di Jakarta, Senin lalu.
Dia melanjutkan, "Mereka banyak menggunakan pendekatan mazhab Imam Maliki, Hambali, dan Imam Hanafi, sedangkan kita menggunakan Imam Syafii yang relatif paling toleran."
Sebagai contoh konkret, Haikal menyoroti perbedaan ketentuan soal alkohol dalam obat-obatan. Lembaga sertifikasi terkemuka di AS seperti IFANCA dikenal sangat keras: kandungan alkohol sama sekali tidak diperbolehkan, harus nol persen.
Bandigkan dengan ketentuan di Indonesia. Berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia, dalam kondisi khusus seperti untuk obat, masih ada toleransi kandungan alkohol hingga batas tertentu.
"Kalau ditanya jujur, Amerika bisa lebih ketat daripada kita. Keputusan MUI saja misalnya alkohol untuk obat boleh sampai 0,5 persen, sementara IFANCA tidak boleh sama sekali, harus nol persen. Saya sudah konfirmasi langsung soal itu," katanya tegas.
Artikel Terkait
Kiper Ajax Maarten Paes Buka Suara soal Ledakan Emosi Usai Kekalahan dari Groningen
Motif Ekonomi Diduga Jadi Pemicu Pembunuhan Istri Siri di Depok
Jadwal Imsak dan Salat di Bogor Hari Ini, Imsak Pukul 04.33 WIB
Imsak Jakarta 10 Maret 2026 Pukul 04.33 WIB