Dari dalam Air Force One, Donald Trump menyampaikan keraguannya. Mantan Presiden AS itu dengan tegas membantah klaim Kremlin soal serangan drone Ukraina ke salah satu kediaman Vladimir Putin. "Saya tidak percaya serangan itu terjadi," ujarnya.
Pernyataan Trump itu disampaikan kepada wartawan dalam sesi tanya jawab, Minggu (4/1) waktu setempat. Ia terlihat menanggapi pertanyaan mengenai insiden yang disebut-sebut terjadi antara akhir Desember lalu itu.
Menurut versi Moskow, serangan terjadi dari Minggu tengah malam hingga Senin dini hari. Mereka menuding Kyiv mengerahkan puluhan drone jarak jauh untuk menyerang properti Putin di area Novgorod. Bahkan, Kementerian Pertahanan Rusia sempat merilis video sebuah drone yang ditembak jatuh sebagai bukti, kata mereka.
Namun begitu, Kremlin sendiri menyatakan properti tersebut tidak rusak. Putin juga dikabarkan sedang tidak berada di lokasi saat kejadian.
Trump tampaknya menangkap celah dalam narasi itu. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa kebenaran tuduhan Rusia masih gelap. "Tidak ada yang tahu pada saat itu," katanya, meragukan seluruh klaim yang beredar.
Semua ini terjadi di tengah momen diplomatik yang cukup panas. Upaya mengakhiri perang yang sudah berlarut-larut sedang digenjot. Menariknya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky baru saja terbang ke Florida untuk bertemu langsung dengan Trump. Pertemuan itu jelas menyisakan banyak tanya.
Di sisi lain, pejabat Rusia terus menyuarakan kritik. Mereka menilai Ukraina tidak serius dalam jalur diplomasi. Sementara itu, Kyiv dan sekutu-sekutu Eropanya bersikukuh membantah. Bagi mereka, serangan terhadap kediaman Putin itu sama sekali tidak pernah terjadi.
Jadi, ada dua versi yang saling bertolak belakang. Satu dari Moskow dengan video dan tuduhan. Satunya lagi dari Kyiv dengan bantahan dan dukungan sekutu. Dan di tengahnya, Donald Trump dengan skeptisismenya yang khas.
Artikel Terkait
Jadwal Salat Bandung Rabu 10 Juni 2026: Imsak Pukul 04.26, Subuh 04.36, dan Isya 18.58 WIB
Polisi Maroko Tangkap 11 Tersangka Jaringan Narkoba dan Pencucian Uang Lintas Negara
Studi: Piala Dunia 2026 Berpotensi Jadi Edisi Paling Boros Karbon Akibat Penerbangan Massal
Marapthon Dinilai Ubah Cara Publik Konsumsi Media Digital, Pengamat Soroti Pergeseran ke Konten Partisipatif